We are pleased to announce that the official Symposium Handbook for the CICP Symposium and Research Dissemination 2025 is now available for download. It includes the full schedule, keynote information, presentation details, room assignments, selected abstracts, and access links for online participation.
Thank you to all presenters and participants for your contribution and enthusiasm toward this year’s symposium.
Public Release


We are pleased to announce the Selected Abstracts for the Symposium and Research Dissemination themed “Beyond the Screen: Rethinking Media and Violence.”
Congratulations to all presenters whose works have been selected. We also extend our deepest appreciation to everyone who submitted their abstracts. Each contribution reflects a strong commitment to advancing critical perspectives on media, violence, and the intricate ways they interact in contemporary society. Your engagement strengthens our shared mission to promote culturally grounded, socially responsive, and academically rigorous dialogue.
Pada sesi Module 2 Lecture 1, Dr. Zamzam menyampaikan materi tentang pendekatan etnografi multisensori pada era digital, khususnya dalam penelitian antropologi. Penelitian antropologi berfokus pada konstruksi sosial terhadap indra, khususnya persepsi sensorik dalam proses sosialisasi, yang tidak terbatas pada persepsi fisik atau tubuh semata. Persepsi sensorik yang terbentuk secara sosial ini memiliki implikasi terhadap sisi afektif individu. Istilah afek dalam konteks ini mengacu pada kategori umum emosi dan sensasi yang memengaruhi cara kita memersepsi dunia dan bertindak di dalamnya, serta harus dipahami dalam kerangka tindakan sosial.

📢 Call for Paper & Symposium 2025
Beyond the Screen: Rethinking Media and Violence (Without Registration Fee!)
📅 11–12 December 2025 | Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada (Hybrid event – onsite & online participation available)
Jum’at (18/07), sesi ketiga dari rangkaian modul 1 International Summer Course CICP 2025 “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP. Psikologi dan budaya kembali disorot dengan kuliah yang dibawakan oleh cendekiawan ternama Prof. Emiko Kashima dari La Trobe University. Sesi yang berjudul “What is Polyculturalism? A New Perspective for Understanding Culture and Cultural Identity” ini mengajak para peserta untuk mengeksplorasi bagaimana budaya tidak tetap, melainkan saling terhubung dan terus berkembang.
Memahami Psikologi Indigenous bersama Dr. Rogelia Pe-Pua: Rangkaian International Summer Course CICP
Kamis (17/07), Dr. Rogelia Pe-Pua (University of New South Wales) menjadi narasumber di summer course CICP 2025. Dalam presentasinya yang berjudul “Tracing the Trajectory of Indigenous Psychology: A Reflective Dialogue on Knowledge, Method, and Identity”, Dr. Pe-Pua menyoroti kontribusi penting Sikolohiyang Pilipino atau Psikologi Filipina dalam membangun fondasi psikologi yang kontekstual dan berbasis budaya. Ia menegaskan bahwa pendekatan psikologi yang relevan harus berakar pada pengalaman hidup, nilai-nilai, dan cara berpikir masyarakat lokal—bukan sekadar menerapkan teori Barat secara universal.
Rabu (16/7), telah dilaksanakan rangkaian perkuliahan pertama International Summer Course CICP 2025. Topik yang dibahas dalam perkuliahan ini adalah “Dynamic Nature of Psychological Phenomena: Where Cultural Psychology Solves the Main Problem of General Psychology”. Perkuliahan ini menghadirkan Prof. Jaan Valsiner (Aalborg University) and Assoc. Prof. Giuseppina Marsico (the University of Salerno) sebagai narasumber. Valsiner dan Marsico menyoroti kekeliruan mendasar dalam tradisi psikologi umum yang cenderung mengabaikan peran sentral semiosis, yakni proses penciptaan dan pemaknaan pengalaman.
Yogyakarta, 14 Juli 2025 — Centre for Indigenous and Cultural Psychology (CICP), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, secara resmi membuka rangkaian International Summer Course tahun 2025 bertema “Beyond Boundaries: Reflection and Forward Looking into Psychology and Culture“. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini menandai peringatan 15 tahun perjalanan CICP dalam mengembangkan dan memperkuat pendekatan psikologi indigenous dan budaya di Indonesia dan negara-negara berkembang.
Senin (21/07)- Senin (21/07) — Dalam sesi yang menggugah pemikiran pada Summer Course “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP, topik psikologi dan budaya dibahas dalam perspektif baru melalui kuliah yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, M.A, seorang akademisi terkemuka, yang membawakan materi tentang pendekatan etnografi multisensorik di era digital, khususnya dalam penelitian antropologi. Penelitian antropologi berfokus pada konstruksi sosial terhadap indra, khususnya persepsi sensorik dalam proses sosialisasi, yang tidak terbatas pada persepsi fisik atau tubuh semata. Persepsi sensorik yang terbentuk secara sosial ini memiliki implikasi terhadap sisi afektif individu. Istilah afek dalam konteks ini mengacu pada kategori umum emosi dan sensasi yang memengaruhi cara kita memersepsi dunia dan bertindak di dalamnya, serta harus dipahami dalam kerangka tindakan sosial.
Wina Aulia, lulusan program magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus asisten peneliti di Center for Indigenous and Cultural Psychology, Fakultas Psikologi UGM, mempresentasikan penelitiannya dalam konferensi Asian Association of Social Psychology (AASP) 2025 yang diselenggarakan di Monash University Malaysia pada 10–12 Juli 2025.
Kamis (26/06) lalu, Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM menyelenggarakan “Angkringan” ke-23 bertajuk “Exploration of Ethnic Identity and the Meaning of Moke”. Angkringan kali ini merupakan serial dari rangkaian pre-Summer Course 2025. CICP menghadirkan narasumber yang merupakan peneliti mengenai ‘Moke’, yaitu Dr. Indra Yohanes Kiling dan Gracia Ida, dimoderatori oleh Asisten CICP Della Rovita Ndoen.
2025
Beyond Boundaries: Reflection and Forward Looking Into Psychology and Culture
An International Summer Course by Center for Indigenous and Cultural Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada
Lusiana Yashinta Bahas Identitas Muslimah Muda dalam Era Mobilitas Global di Simposium Internasional
Yogyakarta, 9 Mei 2025 – Lusiana Yashinta Ellysa Putri, M.Sc., Research Associate dari Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, mempresentasikan penelitiannya secara daring dalam simposium internasional
Yogyakarta, 28 Mei 2025 — Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM kembali menggelar seri diskusi “Angkringan”, kali ini memasuki edisi ke-22 dengan tajuk
Yogyakarta, 23 Mei 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM kembali menggelar kegiatan rutin “Jumatan CICP” yang kali ini mengangkat topik “Langkah demi Langkah Analisis Data Kualitatif.” Acara ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di ruang CICP. Kegiatan ini difasilitasi oleh F. A. Nurdiyanto, Research Associate di CICP.
Yogyakarta, 25 April 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM sukses menyelenggarakan diskusi rutin Angkringan #22
dengan tema “Kuasa dalam Relasi Pertemanan Santri” pada Jumat (25/4) secara daring melalui Zoom Meeting.
Yogyakarta, 10 April 2025 – Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP) bersamai Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan CICP Exchange Forum: Cross-Cultural International Research pada Senin, 10 April 2025 pukul 10.00–11.30 WIB. Forum ini dilaksanakan secara hybrid, bertempat di Fakultas Psikologi UGM dan melalui platform Zoom, serta menghadirkan dua dosen tamu yang ahli dalam isu psikologi lintas budaya dan kemanusiaan.
Jum’at, 14 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan kegiatan Jum’atan yang dikhususkan untuk internal CICP. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jum’at (14/03) pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di Kantor CICP, Lantai 5 Gedung D, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Jum’atan kali ini membahas topik mengenai Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA). CICP menghadirkan Lusiana Yashinta, M.Sc., Research Associate CICP, sebagai fasilitator. Lusi telah melakukan beberapa analisis CDA dalam perjalanan risetnya.
Minggu, 9 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) telah sukses melaksanakan sesi kelima dalam rangkaian School of Researcher (SoR) 2025. Sesi ini mengangkat tema “Photovoice dalam Penelitian Psikologi”, dengan menghadirkan Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. sebagai pembicara utama.
Selama sesi yang berlangsung secara luring dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB di Gedung Psikologi UGM, para peserta yang merupakan peneliti muda di CICP aktif berdiskusi mengenai sejarah dan konsep photovoice dalam penelitian psikologi. Pembicara menjelaskan bagaimana metode ini dapat digunakan selain sebagai alat untuk memahami pengalaman dan perspektif individu melalui dokumentasi visual tetapi juga bisa menjadi metode kolaboratif dengan peserta dan aksi nyata yang bisa dilakukan.
Selain pemaparan materi, sesi ini juga mencakup praktik langsung. Para peserta dibagi menjadi sekelompok 2 orang untuk melakukan eksplorasi visual dan berbagi pengalaman dalam menggunakan photovoice sebagai bagian dari penelitian mereka. Praktik ini memungkinkan peserta untuk memahami bagaimana pendekatan ini dapat memberikan wawasan mendalam terhadap fenomena sosial dan psikologis yang sedang diteliti.
Dengan terlaksananya sesi ini, diharapkan para peserta dapat mengaplikasikan metode photovoice dalam penelitian mereka ke depan, serta semakin memperkaya pemahaman mengenai pendekatan kualitatif dalam psikologi.
Sabtu, 8 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) telah sukses melaksanakan sesi keempat dalam rangkaian School of Researcher (SoR) 2025. Sesi ini mengangkat tema “Analisis Koding”, dengan menghadirkan Ibu Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D. sebagai pembicara utama.
Sesi yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB dengan bertempat secara hybrid di Gedung Psikologi UGM ini, berfokus pada proses pembuatan tema dan penugasan dalam membentuk kode-kode dari kutipan-kutipan partisipan dalam penelitian kualitatif. Peserta diajak untuk memahami perbedaan antara deductive coding yang berangkat dari teori atau kerangka konsep yang telah ada, dan inductive coding, yang mengizinkan pola-pola temuan muncul secara alami dari data. Selain itu, mereka juga diberikan latihan langsung dalam mengidentifikasi dan mengelompokkan kode-kode dari kutipan partisipan untuk membentuk tema yang lebih besar.
Melalui sesi ini, diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai teknik analisis data kualitatif dan mampu menerapkannya dalam penelitian mereka sendiri. Kegiatan ini juga memperkaya keterampilan para peneliti muda di CICP dalam menyusun analisis yang sistematis dan berbasis data.
Jum’at (07/03) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) menyelenggarakan School of Researcher (SOR) bagian ketiga tentang “Kepenulisan Manuskrip Kualitatif”. SOR ini khusus bagi seluruh asisten peneliti CICP untuk memberikan pemahaman dan gambaran mengenai strategi penulisan kualitatif. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jum’at (07/03), pukul 13.00-17.00 WIB, dilaksanakan secara hibrida yaitu, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di Ruang D404 Gedung Psikologi, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta, 28 Februari 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar kegiatan “Angkringan CICP” dengan tema “People of The Barracks”: Meta-Beliefs of a migrant community in West Kalimantan, Indonesia. Ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wenty Marina Minza, dengan Lintang sebagai asisten yang membantu dalam proses penelitian. Acara ini berlangsung secara daring, mulai pukul 15.30 hingga 16.30 WIB.
Dalam pemaparannya, Kristoforus Lintang, yang biasa disapa Lintang, menerangkan tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengeksplorasi meta-kepercayaan di antara masyarakat Madura Sambas yang dimukimkan kembali di Kalimantan Barat, Indonesia, yang terkena dampak Konflik Sambas 1999. Lintang, menerangkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan Live-in selama 2 periode, Juni-Agustus dan September-Oktober tahun 2023.
Minggu (23/02), Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) menyelenggarakan School of Researcher (SOR) bagian kedua tentang “Dasar-dasar Penelitian Big Data: Pengenalan Analisis Media Sosial”. SOR diperuntukan khusus bagi seluruh internal dan calon asisten peneliti CICP. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu (23/02), pukul 08.00-12.00, yang dilaksanakan secara hibrida, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di Ruang D404 Gedung Psikologi, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta, 22 Februari 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar kegiatan rutin “School of Researcher 2025”. SoR 2025 ini akan berlangsung selama 5 bagian dan dibuka khusus bagi calon-calon peneliti CICP. Tiap sesi akan berupa materi yang berbeda dan mengundang tamu pembicara yang ahli dalam bidangnya. Rangkaian acara ini dilaksanakan sejak 22 Februari hingga 9 Maret 2025 dan dilakukan secara luring (offline) di Fakultas Psikologi UGM.
Pada sesi pertama, tertanggal 22 Februari dibuka dengan Scoping Review yang dibawakan oleh Pak Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog. Dalam penjelasannya, Pak Tio yang akrab disapa, menjelaskan bagaimana systematic review merupakan metode dengan tingkat bukti tertinggi dalam rantai metode penelitian. Pak Tio, juga menjelaskan tahapan-tahapan dalam melakukan kajian literatur. Selain penjelasan, terdapat juga sesi praktik langsung. Peserta diminta untuk melakukan praktik Scoping Review bersama kelompok dan mempresentasikannya. Ada juga sesi berbagi informasi terkait mencari literatur yang cepat dan praktis dalam
Jum’at (14/02) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan Angkringan kedelapan belas dengan tema “Young Men Navigating Pathways to Livelihood in Resettlements of West Kalimantan, Indonesia”. Topik ini diulas bersama tamu super, Lana Savira Kusuma Dewi, Asisten Peneliti CICP, dan moderator, Wina Aulia.
Kamis (30/01) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan Angkringan ketujuh belas dengan tema “Stigma, Support, and Ideation About Suicide in Indonesian Twitter”. Topik ini diulas bersama tamu super, Mas Afrizal Hasbi Azizy, CICP Researcher, dan moderator, Faiqal Dima Hanif.
Kegiatan ini menghadirkan F. A. Nurdiyanto sebagai fasilitator, yang membahas pentingnya refleksivitas dalam penelitian kualitatif. Refleksivitas merupakan aspek krusial dalam penelitian sosial, khususnya dalam memahami bagaimana posisi dan pengalaman peneliti dapat memengaruhi hasil penelitian.
Dalam penelitian kualitatif, refleksivitas menjadi aspek krusial yang tidak dapat diabaikan. Berbeda dengan deskripsi yang sekadar menyajikan data secara netral, analisis justru menghubungkan berbagai elemen untuk memahami makna yang lebih dalam. Setiap peneliti membawa latar belakang yang unik—baik dari segi gender, kelas sosial, ideologi, maupun sistem kepercayaan—yang pada akhirnya memengaruhi cara mereka menjalankan riset.
Oleh karena itu, refleksi diri menjadi langkah awal yang esensial untuk memahami bagaimana posisi dan pengalaman pribadi membentuk cara kita mengonstruksi realitas penelitian. Catatan lapangan atau field memo tidak hanya berisi ringkasan temuan tetapi juga refleksi peneliti tentang isu dan partisipan yang terlibat. Penelitian kualitatif tidak bertujuan menghasilkan kesimpulan absolut, melainkan menangkap dinamika sosial yang selalu berubah, dengan kesadaran penuh akan keterbatasan yang ada.
Jumatan CICP kali ini bersifat eksklusif dan terbatas bagi internal CICP. Acara ini menjadi kesempatan berharga untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman langsung dengan fasilitator.
Diskusi ini diadakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 24 Januari 2025, pukul 15.30-17.10 WIB. Acara ini terbuka untuk umum, dengan harapan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai reaksi psikologis dan sosial yang muncul di dunia maya terkait kasus Mas Bechi.
Kasus Mas Bechi menjadi sorotan publik karena memicu berbagai reaksi warganet, mulai dari dukungan hingga kecaman. Dalam diskusi ini, Faiqal, panggilan akrabnya, membahas bagaimana pola interaksi di media sosial membentuk opini publik serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat.
Faiqal juga membahas bagaimana pola interaksi di media sosial membentuk opini publik serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Salah satu konsep utama yang dibahas adalah online disinhibition effect, yaitu fenomena di mana individu cenderung lebih bebas dalam mengekspresikan opini atau emosi secara ekstrem di dunia maya dibandingkan di dunia nyata. Hal ini dapat berdampak pada pola komunikasi, baik dalam bentuk dukungan maupun serangan verbal terhadap pihak yang terlibat dalam kasus ini. Selain itu, diskusi juga akan membahas peran kontrol sosial dalam membentuk sikap masyarakat terhadap isu-isu yang viral. Media sosial dapat menjadi alat yang memperkuat norma sosial, tetapi juga dapat menjadi tempat di mana sanksi sosial melemah karena anonimitas dan jarak psikologis yang ada di dunia maya.
Dengan diadakannya diskusi ini, diharapkan mahasiswa dan masyarakat dapat lebih memahami bagaimana psikologi siber bekerja dalam membentuk persepsi publik dan bagaimana bersikap kritis dalam menghadapi isu-isu viral di dunia maya.
Halo Sobat Kultur! 👋🏻
CICP kembali membuka kesempatan bagi teman-teman Fakultas Psikologi UGM yang ingin menjadi bagian dari unit kami sebagai Intern.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pendaftaran, yaitu:
- Mahasiswa S1 Psikologi UGM minimal semester 4 atau Mahasiswa S2 Psikologi UGM minimal semester 2
- Memiliki minat dan komitmen kuat pada penelitian
- Menguasai dasar-dasar metode penelitian
- Menguasai dasar penggunaan Microsoft Word, Canva, dan/atau WordPress menjadi nilai tambah
Deskripsi Tugas Umum:

Jum’at (24/01), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan rapat besar untuk periode 2025. Rapat diselenggarakan secara hibrida, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di ruangan A-215 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Seluruh internal CICP menghadiri rapat dan berpartisipasi aktif pada diskusi perencanaan kegiatan CICP selama tahun 2025 mendatang. Beberapa hal yang dibahas, yaitu: persiapan rekrutmen untuk calon internal CICP baru, sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP), sosialisasi roadmap kegiatan mendatang, serta evaluasi kegiatan pada tahun sebelumnya.
Kuliah tamu ini menghadirkan tiga narasumber yang ahli di bidangnya:
Peneliti CICP berhasil lolos dana penelitian di International Joint Research Academy (IJRA) UGM dengan sub Pengembangan Kolaborasi Riset Internasional melalui flagship UGM Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat. Penelitian ini diketuai oleh Pradytia Putri Pertiwi, Ph.D melakukan studi preliminari dengan judul Vulnerability and Social Cohesion in Shared Spaces: A Cross-Country Analysis of Forcibly Displaced Rohingyas in Bangladesh and Indonesia. Penelitian ini sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDG) 10 : Reduced Inqualities dan SDG 16 : Peace, Justice and Strong Institution. Penelitian ini berkolaborasi dengan Randy Wirasta Nandyatama, SIP, M.Sc., Ph.D dari Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Dr. Marta Mawarpury dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Prof. Dennis Dijkzeul dan Dr. Abu Faisal Md. Khaled dari Institute for International Law for Peace and Conflict – IFHV, Ruhr-University Bochum Germany.
Jum’at (29/11) lalu, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) telah menyelenggarakan Angkringan kelima belas berkolaborasi dengan prodi S1 Psikologi pada mata kuliah Psikologi Kebencanaan dan Krisis. Intervensi Psikososial Pengungsi Rohingya di Aceh dan Temuan Awal riset Kohesi Sosial adalah tema yang disajikan pada angkringan di penghujung November tersebut. Dilaksanakan secara daring, Angkringan CICP kali ini mengundang dua tamu spesial, yaitu Bang Al Fadhil (Direktur Yayasan Geutanyoe, Aceh) dan Kak Duma Hardiana Manurung (Asisten Peneliti CICP). Sesi Angkringan ini diawali dengan sambutan Direktur CICP, Ibu Pradytia Putri Pertiwi, Ph.D. Kemudian dilanjutkan oleh Mbak Fadhilah Sofiyana sebagai moderator sesi penyampaian materi dan diskusi. Angkringan dihadiri oleh Mahasiswa S1 Universitas Gadjah Mada, Anggota CICP, Tim Yayasan Geutanyoe dan peserta lainnya yang tertarik mengenai isu Pengungsi Rohingya.
Kursus ini terbagi dalam tiga seri dengan fokus pembelajaran yang mendalam. Seri pertama, memberikan pengantar tentang paradigma penelitian kualitatif, membahas teori dasar dan perspektif metodologi yang relevan dalam penelitian psikologi. Seri kedua membahas dasar-dasar serta rancangan penelitian kualitatif. Seri ketiga akan mengupas tuntas tentang analisis data kualitatif, dengan penekanan pada teknik-teknik dan aplikasi praktis dalam pengolahan data penelitian.
Pada seri pertama dibagi menjadi enam sesi.
Sesi 1: Pengantar Metode Penelitian Kualitatif yang dibawakan oleh Prof. Subandi, M.A., Ph.D. Dalam sesi ini, Prof. Bandi berfokus pada makna mendalam dan pemahaman kontekstual terhadap pendekatan penelitian kualitatif. Beliau juga menekankan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali dan memahami fenomena melalui perspektif partisipan, bukan sekadar menguji teori atau mendapatkan generalisasi. Penelitian juga tidak hanya melihat fenomena secara terpisah tetapi juga mempertimbangkan konteks holistik dan bagaimana berbagai faktor saling terkait. Sesi di moderatori oleh Syifa Fauziah salah satu asisten peneliti CICP.
Sesi 2: Paradigma Interpretatif dalam Penelitian Kualitatif oleh Dr. YB. Cahya Widiyanta, M.Si. Dalam sesi ini, Pak Cahya menekankan bahwa paradigma interpretatif muncul sebagai respons terhadap positivisme, yang dianggap kurang mampu memahami makna subjektif dalam kehidupan sosial. Pak Cahya juga menekankan paradigma ini berfokus pada pemaknaan, konteks, dan pengalaman individu sebagai bagian dari realitas yang dikonstruksi secara sosial. Dalam penelitian kualitatif dengan perspektif paradigma interpretatif, beliau menggunakan bahasa dan narasi untuk memahami fenomena. Sesi ini dimoderatori oleh Fadhilah Sofiyana, Asisten Peneliti CICP.
Sesi 3: Paradigma Transformatif dalam Penelitian Kualitatif oleh Elga Andriana, M.Ed., Ph.D. Ibu Elga dalam paparannya, menekankan paradigma transformasi dalam penelitian kualitatif dirancang untuk mengatasi ketimpangan kekuasaan, ketidakadilan, dan isu sosial melalui pendekatan inklusif dan partisipatif. Beliau juga mengatakan pentingnya keadilan sosial dan nilai-nilai etis, dengan tujuan memberdayakan komunitas yang terpinggirkan. Dalam paradigma ini metode yang digunakan beragam, seperti Participatory Action Research (PAR), Photovoice, dan Critical Discourse Analysis, yang semuanya bertujuan untuk memahami dan mengubah dinamika sosial dengan melibatkan partisipasi aktif dari komunitas sasaran. Sesi ini di moderatori oleh Yutia Cesarinda, Asisten Prodi S3 Psikologi.
Sesi 4: Paradigma Konstruktivis dalam Penelitian Kualitatif oleh Dr. Wenty Marina Minza. Dalam sesi ini, Bu Wenty menggambarkan paradigma konstruktivisme sebagai pandangan bahwa elemen-elemen psikologis, seperti pikiran, diri, dan emosi, tidak hanya merupakan hasil dari pengalaman individu yang bersifat internal, tetapi juga merupakan hasil dari interaksi sosial dan budaya di mana individu tersebut berada. Beliau juga menjabarkan bahwa realitas yang dipahami seseorang dianggap sebagai hasil dari konstruksi bersama melalui proses sosial, seperti komunikasi, norma, dan wacana. Sesi ini dimoderatori oleh Ahmad Yusrifan Amrullah, Asisten Uni CICP.
Sesi 5: Paradigma Kritis dalam Penelitian Kualitatif
Pada hari Rabu, 20 November 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) kembali mengadakan Angkringan ke-14 secara hybrid bertajuk “Angkringan 14 – Breaking Barriers of Disability and Mental Health: Learning from Indonesian Deaf Communities.” Sesi yang penuh wawasan ini mengangkat tantangan kesehatan mental yang dihadapi oleh komunitas Tuli dan berbagi perspektif berharga tentang cara mengatasi hambatan terkait disabilitas dan kesehatan mental.
(22/11) Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) telah melaksanakan Workshop Penulisan Publikasi: Konsinyasi ke 2 Penulisan Manuskrip. Konsinyasi tersebut dilaksanakan selama dua hari (21-22 November 2024) pada pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Artotel Yogyakarta.
Prof. Dr. Faturochman, M.A. (ketua peneliti) dan Dr. Wenty Marina Minza, M.A. (anggota peneliti) dari Center for Indigenous & Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM melaksanakan penelitian dalam upaya untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDG). Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi poin SDG kesebelas, yakni membuat perkotaan dan permukiman manusia menjadi inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
(28/10) Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan Workshop Penulisan Publikasi: Konsinyasi 1 Penulisan Manuskrip. Konsinyasi tersebut dilaksanakan selama dua hari (28-29 Oktober 2024) pada pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Hotel Sagan Heritage.
Pada Jum’at (18/10), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan Angkringan ketiga belas dengan topik “Kesehatan Jiwa Masyarakat: Perspektif Konsumen dan Aksi Komunitas”. Angkringan kali ini dilaksanakan secara hibrida, daring melalui platform Zoom dan tatap muka di Ruang D-506 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Angkringan yang membahas kesehatan mental masyarakat dengan integrasi budaya dan komunitas ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya.
Pada Jum’at (4/10), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) mengadakan kegiatan Jumatan CICP yang membahas mengenai “Diseminasi Hasil Penelitian Angkringan sebagai Ruang Komunal dan Interaksi Sosial”. Jumatan kali ini disampaikan oleh Faiqal Dima Hanif yang merupakan salah satu Asisten Peneliti CICP yang menjadi perwakilan dari tim penelitian. Jumatan bersifat eksklusif karena dihadiri oleh internal CICP sebagai ruang diskusi dan pengayaan pengetahuan riset bagi asisten peneliti CICP. Sesi tanya jawab digunakan sebagai ruang diskusi dan pemberian masukan untuk penelitian yang sedang dibahas.
CICP dan CLSD Sukses Gelar Student-Led Conference: Puncak Penutupan International Summer Course 2024
Acara yang diadakan secara hybrid ini diikuti oleh mahasiswa UGM, baik dari jenjang S2 maupun S3, serta para peneliti yang memiliki minat dalam bidang psikologi lintas budaya dan perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupan. Student-Led Conference, yang menjadi puncak acara, memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempresentasikan manuskrip penelitian yang telah mereka kerjakan selama summer course berlangsung. Dua panelis, yakni Dr. Elga Andriana dari UGM dan Dr. Andrian Liem dari Monash University Malaysia, turut hadir memberikan masukan konstruktif terhadap manuskrip yang dipresentasikan.
Tiga Modul Pembelajaran Inti
Selama summer course, peserta mempelajari tiga modul utama, yakni:
Pada Jum’at (4/10) Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) kembali menggelar acara Angkringan CICP, yang kali ini merupakan sesi kedua belas dengan tema “Psikologi Lingkungan: Budaya dalam Perubahan Iklim Global”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dari pukul 15.30 hingga 17.00, dihadiri oleh pegiat ilmu yang menunjukkan minat besar pada topik psikologi nusantara khususnya psikologi lingkungan dan budaya.
Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) bersama Center for Life-Span Development (CLSD) menyelenggarakan seminar internasional dengan tema “Issues in Knowledge Construction and Forms of Resistance” untuk Mahasiswa (S1, S2, dan S3) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Seminar dilaksanakan secara luring di Gedung A Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Topik yang menarik ini dibahas dan didiskusikan secara mendalam bersama dua narasumber yang ahli di bidangnya. Narasumber tersebut adalah Raffaele Modugno (Mahasiswa Doktoral, Universitas Salerno Italia) dan Olivia Hardiwirawan (Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada).
International Summer Course 2024 yang merupakan kolaborasi antara Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) dan Center for Life-Span Development (CLSD) yang telah diselenggarakan pada tanggal 17 September 2024 dan akan berakhir pada 18 Oktober 2024. Summer Course yang bertemakan “Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Interventions” dilaksanakan secara luring dan daring.
International Summer Course 2024 yang merupakan kolaborasi antara Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) dan Center for Life-Span Development (CLSD) yang telah diselenggarakan pada tanggal 17 September 2024 dan akan berakhir pada 18 Oktober 2024. Summer Course yang bertemakan “Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Interventions” dilaksanakan secara luring dan daring.
Narasumber kali ini adalah Antika Widya Putri, atau lebih sering disapa Antik, menarasikan adanya perubahan standar kecantikan wanita Indonesia selama dan setelah kolonial. Pada masa kolonial, kecantikan didominasi oleh standar Barat, seperti tubuh langsing, rambut lurus, hidung mancung, dan kulit putih. Standar inilah yang mempengaruhi persepsi masyarakat bahkan hingga saat ini. Wanita Nusantara berbondong-bondong memenuhi standar kecantikan tersebut. Hingga tidak jarang mengakibatkan rasisme saat standar kecantikan tidak terpenuhi.
Feminisme poskolonial berupaya menghapus subalternitas perempuan Timur dengan mengakui keberagaman kecantikan, membangun pengetahuan inklusif, dan menolak dominasi hegemoni Barat. Tujuannya adalah agar perempuan Timur dapat mengendalikan identitas dan kecantikan mereka sendiri. Masyarakat Nusantara perlu membangun pengetahuan, memberi pengakuan dan penghargaan atas keberagaman kecantikan di berbagai budaya.
Kecantikan perempuan tidak harus berfokus pada bentuk fisik, tapi juga terletak pada kepribadian, kecerdasan, dan upaya menjadi diri sendiri.
“Jika bisa beragam, mengapa harus seragam?”

Cultural Dynamics and Life-Span Development:
Research Approaches and Practical Interventions
Collaborating with Indonesian and global experts, CICP & CLSD Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada officially presents Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Intervention.
[📝 PROGRAM]
16 lecture sessions (4 modules) present the latest advances in community research and intervention from a psychological and multidisciplinary perspective.
[👤 WHO SHOULD JOIN]
This summer course is open to students, researchers, practitioners, policymakers, and participants from other universities, both domestic and international with a limited quota.
[🗒 TIME AND PLACE]
September 17th – October 8th, 2024
via Zoom Meeting, eLOK, and Google Classroom
[📁 FACILITIES]
– Certificate
– Transferable course credit for students at all level degrees (this course is equal to 96 hours/2 SKS)
Registration dates 1 August -6 September, 2024 through:
⬇⬇⬇
ugm.id/SCCultureLifeSpan
For more information about this program, please kindly check:
⬇⬇⬇
https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/summer-course/
All session will be delivered in English. Closed captioning will be provided. Full and 50% scholarships are available.
Should you have further questions, do not hesitate to contact us at:
Email: cicp@cicp.psikologi.ugm.ac.id | clsd.psikologi@cicp.psikologi.ugm.ac.id
Website: ugm.id/CLSDSummerCourse
Instagram: @cicp.ugm | @clsd.ugm
kembali melaksanakan acara Angkringan CICP pada, Jumat, (16/4), yang merupakan sesi kesepuluh dengan tema “Dekolonisasi dalam Narasi Hubungan Makassar-Marege di Indonesia dan Australia”
Anda juga dapat mengetahui informasi lain mengenai konferensi yang telah diikuti CICP melalui link ini.
Pada Jumat, 26 Juli 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) kembali menggelar acara Angkringan CICP, yang kali ini merupakan sesi kesepuluh dari rangkaian diskusi bertema “Psikologi Nusantara, Sudah Sampai Mana?” Acara ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dari pukul 15.00 hingga 17.00, dihadiri oleh 78 peserta, termasuk pelajar sekolah menengah yang menunjukkan minat besar pada topik psikologi nusantara.
Jumat, 12 Juli 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) sukses menggelar Angkringan CICP ke-8 dengan tema “Menemukenali Psikologi Nusantara.” Acara yang diadakan secara daring melalui platform Zoom ini menampilkan Olivia Hardiwirawan sebagai pembicara utama. Acara dimulai pada pukul 15.30 dan berlangsung hingga 17.00, menarik antusiasme dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, peneliti, serta individu yang penasaran dengan kajian psikologi nusantara.
CICP mengadakan workshop untuk umum tentang penyusunan policy brief selama dua hari pada 29-30 Juli 2024 pada pukul 08.00-12.15 WIB.
Hari pertama, penyampaian materi oleh Dr. Diana Setiyawati. Pemateri menyampaikan mengenai pengenalan policy brief kepada peserta, contoh-contoh policy brief, langkah-langkah penyusunan policy brief, strategi melakukan audiensi policy brief pada stakeholder, dan diakhiri dengan membuat tulisan singkat mengenai policy brief berdasarkan tiap-tiap poin sesuai format yang telah disediakan. Pemateri memberikan feedback pada beberapa tulisan untuk perbaikan policy brief yang telah dibuat oleh peserta sebelum kegiatan.
Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan School of Researcher (SOR) bertajuk Method Matters: Building Capacity for Cutting-Edge Research
. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih calon asisten peneliti CICP sebelum berkecimpung langsung pada penelitian yang sudah dan yang akan berjalan di CICP. Dalam rangka mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas, program ini berfokus pada peningkatan keterampilan dan kapasitas para peneliti muda agar mampu menghasilkan penelitian yang inovatif dan berkualitas tinggi.
Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) – Universitas Gadjah Mada along with the Nossal Institute – University of Melbourne, Difabel Siaga Bencana (Difagana), and Global Disaster Preparedness Center (GDPC) collaborate to held the International Research Dissemination:
The Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) at Gadjah Mada University held the 3rd Angkringan Workshop titled “Communal Sharing as the Foundation for Youth Solidarity Actions” on Wednesday, May 8, 2024. The workshop featured speaker Melani Jayanti, M.A., a member of the Pesantren Research Group, to present research findings and interesting discoveries related to the process of forming solidarity within youth organizations and the dynamics of intragroup relations within them.
Jumat pertengahan November lalu (12/11) CICP baru saja menggelar acara yang berjudul CICP International Webinar: Challenges of Living in a Diverse Society. Webinar ini diselenggarakan secara daring via Zoom dengan mengundang 3 narasumber dalam negeri maupun luar negeri. Narasumber tersebut antara lain Prof. Dr. Faturochman, M.A. (Fakultas Psikologi), Dr. Muhammad Najib Azca (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) dari Universitas Gadjah Mada serta Rogelia Pe-Pua, Ph.D. narasumber dari School of Social Sciences University of New South Wales. Materi yang dibahas antara lain yaitu “Managing Diversity for Unity” oleh Faturochman, “Lessons Learned from Conflict Resolution in Indonesia” oleh Muhammad Najib Azca, dan materi terakhir dibawakan oleh Rogelia Pe-Pua yang berjudul “Australian Experience of Multiculturalism and Cultural Diversity”. Webinar ini adalah acara rutin CICP dari program umum Visiting Professor yang diadakan setiap tahunnya, tahun lalu CICP mengundang pembicara Luca Tateo Ph.D. dari University of Oslo, Norwegia. Webinar ini disambut dengan baik dan aktif oleh peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa S1, S2, S3 dan khalayak umum. [Ratri/Humas CICP]
Jumat (22/10) lalu Direktur CICP Haidar Buldan Thontowi, M.A. Ph.D menjadi pembicara pada webinar yang diadakan oleh Pusat Pelayanan Psikologi dan Pengembangan Karir (P4K) UIN SAIZU berkolaborasi dengan HMJ BKI. Webinar tersebut berjudul BEAUTY OF THE WORLD: Indigenous Psychology-The Diversity of Cultural Behavior. Haidar menjadi pengisi sebagai rangkaian pembukaan webinar yang diadakan oleh institusi tersebut. Pada webinar tersebut, beliau menjelaskan berbagai teori dan riset-riset seputar indigenous psychology. Indigenous psychology merupakan paradigma yang mengutamakan perspektif dan interpretasi yang lokal serta relevan dengan budaya di masyarakat tersebut. Indigenous Psychology, ilmu yang diakui di APA dengan adanya “Task Force on Indigenous Psychology” dalam Division 32 APA dengan ketua Louise Sundarajan, Ph.D. Selain itu, ia menekankan bahwa budaya asli merupakan sumber dari konsep dan teori, bukan sebaliknya. Selain itu Indigenous Psychology juga merupakan ilmu yang diakui dalam American Psychological Association (APA) dengan adanya.
Oktober ini CICP kembali mengadakan School of Researcher (SOR): Upgrading untuk meningkatkan kemampuan penelitian asisten CICP. Kegiatan ini diadakan sebanyak 5 sesi pada hari Senin, Jumat, dan Sabtu sepanjang tanggal 15 – 23 Oktober 2021. Kegiatan SOR: Upgrading diisi dengan berbagai tema diantaranya materi statistika analisis regresi, mediasi, moderasi; materi terkait penelitian dengan penggunaan data media sosial dasar-dasar python dan content analysis; serta materi penelitian kualitatif yaitu analisis koding tematik data wawancara. Pengisi dalam acara SOR: Upgrading ini antara lain Direktur CICP Haidar Buldan Thontowi, M.A., Ph.D serta para asisten aktif CICP seperti Syurawasti Muhiddin, S.Psi., M.A., Ika Hana Pertiwi, S.Psi., Kinansa Husainy, dan Yanhizbar Rotanza. Acara dilaksanakan dengan sesi penyampaian materi, tanya-jawab, serta praktik penerapan materi yang sudah didapat pada dataset/data riset. Selain itu, pada SOR ini peserta juga mengaplikasikan materi pengolahan data dengan berbagai software yang relevan seperti SPSS, Microsoft Excel, JupyterLab, Google Colab. [Ratri/Humas CICP]
Acara rutin CICP Theory Building Training (TBT) telah berhasil terselenggara secara daring September lalu pada Jumat (24/9) dan Sabtu (25/9). TBT kali ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dengan mengusung tema “From Theory to Action”. TBT diselenggarakan selama dua hari penuh yang diisi tiga pembicara yaitu Edilburga Wulan Saptandari M. Psi., Ph.D., Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph. D., dan Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Awal Juni lalu (4/6), CICP baru saja mengadakan acara webinar CICP Talk yang kedua kalinya dengan topik “Writing Strategies for Qualitative Research”. CICP Talk ini diadakan sebagai wadah bagi peserta untuk menambah pengetahuan mengenai penelitian kualitatif berdasarkan pengalaman narasumber. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta unsur mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum dari berbagai perguruan tinggi dan institusi yang beragam di Indonesia.
Pandemi tidak menghalangi kita untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri, begitu pula dalam proses pembelajaran penelitian di lingkup CICP. Tahun ini, School of Researcher (SoR) kembali diadakan dengan media daring di dalam kelas (in-class) yang ditujukan bagi seluruh asisten peneliti baru dan lama CICP. SoR kali ini diadakan secara kontinu dalam rentang 2 minggu setiap Senin dan Rabu dimulai pada Senin (19/4) hingga pelaksanaan sesi in-class terakhir pada Rabu (28/4). Minggu pertama rangkaian SoR wajib dihadiri asisten peneliti baru. Di sisi lain, minggu kedua SoR dengan format SoR: Upgrading merupakan agenda wajib bagi asisten peneliti lama (angkatan 2020 dan sebelumnya yang aktif) namun merupakan agenda yang bebas dihadiri asisten peneliti baru yang memiliki minat pada topik materi di hari-hari tersebut.
Riset ini bergerak dengan latar belakang anak muda Indonesia merupakan garda terdepan dalam mitigasi pandemi COVID-19. Mereka banyak berkecimpung sebagai sukarelawan, pengajar, mediator, dan penggerak solidaritas dalam kelompok masyarakat di kampung masing-masing seperti pendirian food bank, bagi-bagi makanan, hingga aktivitas kesehatan terkait COVID-19 itu sendiri seperti kegiatan disinfeksi bersama-sama dan membantu mengisolasi mandiri daerah lokal untuk menjaga keamanan warga sekitar. Aksi solidaritas ini bermakna bahwa pandemi telah mendorong aksi solidaritas, motivasi berpartisipasi dalam lingkungan sekitar, dan aksi solidaritas ini memiliki output yang berbeda di tiap generasi.
Riset ini merupakan bentuk output kerja sama antara tim riset Konsorsium Psikokultural Indonesia (KPI) CICP dengan Luca Tateo, Ph.D dan Giuseppina Marsico, Ph.D. Tahun 2020 lalu, CICP juga bekerja sama dengan Luca dan Pina dalam proyek riset serta menjadi mentor dalam acara Workshop Publication CICP. Acara tersebut merupakan fasilitas percepatan bagi para peneliti CICP dan pembekalan dalam penulisan dan pengiriman publikasi ke jurnal yang dituju. (Humas CICP/Ratri)
[smartslider3 slider=10]
Visiting Professor dihadiri oleh 368 partisipan yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan peneliti. Partisipan tersebut tidak terbatas hanya dari Yogyakarta saja, tetapi dari berbagai daerah lain pula. Kegiatan tersebut dibawakan dalam bahasa inggris dan sudah tersedia penerjemah dari panitia. Tugas penerjemah adalah merangkum apa yang disampaikan narasumber dan menuliskannya di kolom komentar agar dapat dibaca oleh partisipan. Sesi pertama yaitu presentasi dari Dr. Wenty Marina Minza, S.Psi., M.A. dengan judul “Social Perception of the Covid 19 Pandemic: Continuities and Change“. Beliau menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memandang pandemi ini sebagai ancaman, ditunjukkan dengan tingginya tingkat kecemasan. Meskipun begitu, budaya kolektivis membantu masyarakat mengatasi kecemasan tersebut. Sejalan dengan presentasi beliau, Prof. Dr. Faturochman, M.A. menyampaikan dalam presentasinya yang berjudul “Covid 19: Prevention and Optimism” bahwa adanya kolektivisme kuat di masyarakat mengarah pada tingginya level optimisme pada masyarakat Indonesia dan bahwa pandemi akan segera teratasi. Adapun hal yang perlu ditingkatkan adalah perilaku preventif terhadap virus, karena kesadaran masyarakat terkait penyebaran virus masih tergolong rendah.
Sesi kedua Visiting Professor adalah pemaparan materi dari Prof. Luca Tateo, Ph.D. dengan judul “Making Sense of the Covid-19
Pandemic: Between Fear and Hope
Empat pertemuan yang diselenggarakan mengulas topik yang berbeda-beda. Pertemuan pertama mengundang Adelia Khrisna Putri, S.Psi., M.Sc. untuk membahas Indigenous, Cultural, and Cross-cultural Psychology. Pertemuan kedua (20/4) membahas metode penelitian kualitatif dan analisis tematik oleh Ika Adita Silviandari, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Pada sesi tersebut, peserta diharapkan menerima pembekalan terkait metode penelitian kualitatif dan cara-cara melakukan analisis tematik. Ika menyampaikan bahwa peneliti harus mendapatkan ‘ruh’ dari data sehingga hasil yang didapat akan sangat kaya dan mendalam. Ia juga berpesan bahwa melakukan banyak koding pada tahap awal sangat dianjurkan terutama ketika masih pemula.
Pada pertemuan ketiga (22/4) peserta menerima materi metode penelitian kuantitatif dan statistika. Pada sesi ini CICP mengundang Wahyu Jati Anggoro, S.Psi., M.A. untuk menyampaikan materi. Pertemuan ketiga ini bertujuan agar peserta memiliki gambaran pengaplikasian metode kuantitatif dan analisis statistik pada penelitian. Wahyu sempat menyampaikan proses penelitian yang biasanya dilakukan oleh CICP. Penelitian dimulai secara kualitatif kemudian dilanjutkan dengan kuantifikasi data. Kuantifikasi data sesuai dengan asas parsimoni, yaitu menyederhanakan fenomena ke dalam angka. Seperti sesi-sesi sebelumnya, sesi ketiga ini disertai diskusi antara peserta dengan pemateri sehingga peserta mampu menggali pemahamannya secara lebih mendalam.
Setelah dua pertemuan berturut-turut peserta diberikan materi mengenai metode penelitian, pertemuan terakhir (27/4) diisi dengan materi proofreading dalam pembuatan naskah publikasi. Materi ini diisi oleh Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D(cand). Pada sesi ini, peserta ditekankan untuk memiliki ketelitian saat mengecek ulang kelayakan artikel untuk dipublikasikan di jurnal. Kelayakan tersebut mengacu pada ketentuan jurnal yang ingin dituju dan memastikan kesesuaian pada setiap proses penelitian. Buldan menekankan perlunya melakukan pengecekan berulang mulai dari konten hingga format artikel yang dibutuhkan. Rangkaian SOR bersifat interaktif, artinya peserta diberikan tugas sederhana untuk melihat pemahaman materi yang diberikan. Tiap-tiap tugas dilakukan secara mandiri dan diberikan pada setiap materi. Adanya kegiatan tersebut diharapkan mampu membekali asisten peneliti baru CICP agar siap ketika dilibatkan dalam penelitian CICP. [Humas CICP]
Level Intermediate
Melakukan Pengambilan dan Analisis Data pada
Penelitian Grounded Theory dan Eksperimen Online
Theory Building Training (TBT) Level Intermediate merupakan pelatihan metode penelitian yang diadakan oleh Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) yang berfokus pada proses pengambilan dan analisis data. Secara umum TBT bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mempersiapkan dan melaksanakan penelitian-penelitian dengan metode penelitian yang sesuai, dalam rangka menjawab persoalan-persoalan kekinian yang ada dalam masyarakat.
Pada tahun 2020 ini, CICP kembali mengadakan TBT yang berbeda dari pelaksanaan TBT sebelumnya, yaitu dilaksanakan online karena situasi Pandemi COVID-19. Selain itu, TBT 2020 berfokus pada dua pendekatan penelitian, yaitu kualitatif, khususnya grounded theory, dan kuantitatif, khususnya penelitian eksperimen. Secara khusus, TBT tahun ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan metode Grounded Theory sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif, mulai dari pengambilan hingga analisis data; serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan tentang pengambilan data kuantitatif dalam jaringan khususnya pada metode survei eksperimen online serta analisisnya.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/tanggal : Jumat – Sabtu, 25 – 26 September 2020
Tempat : Zoom Meeting
(*informasi terkait akses meeting room akan disampaikan via e-mail masing-masing setelah menyelesaikan proses pendaftaran)
Susunan Acara
Hari I – Jumat, 25 September 2020
| Waktu (WIB) | Acara | Keterangan |
| 12.45 – 13.00 | Peserta masuk ke ruang virtual dan melakukan registrasi | Panitia |
| 13.00 – 13.15 | Pembukaan dan Sambutan | MC dan Direktur CICP |
| 13.15 – 15.45 | Sesi Pendekatan Kualitatif: Grounded Theory
|
Dr. Bagus Riyono, M.A. Psikolog |
| 15.45 – 16.10 | Kesimpulan dan Penutup | Panitia |
Hari II–=&20=&
Center for Indigenous & Cultural Psychology membuka pendaftaran program School of Researcher Semester Genap 2020.
Jika Kamu:
1⃣ Mahasiswa S2 Psikologi UGM
2⃣Tertarik untuk melakukan penelitian terutama penelitian berbasis indigenous dan budaya
3⃣Memiliki keinginan untuk mengembangkan diri
📃BERKAS
1. CV ugm.id/CVSORCICP
2. Esai tentang psikologi indigenous dan budaya
3. Motivation Letter (plus kontribusi)
🗓IMPORTANT DATE
1. Daftar (6-11 Maret)
2. Wawancara (13 Maret)
3. Inclass session (16-23 Maret)
⏳TUNGGU APA LAGI?
Daftarkan diri Anda untuk dapat menjadi bagian
dari Junior Researcher CICP!
🖇YUK DAFTAR
ugm.id/DaftarSORGenap2020
☎ NARAHUBUNG
wa.me/6281220434932 (Ratri)
_________
“What we call our data are really our own constructions of other people’s constructions of what they and their compatriots are up to.”
– Geertz (1973)
Dalam sambutannya, Kepala CICP 2014-2019 menilai bahwa pergantian Kepala CICP akan membawa perubahan yang segar bagi CICP sebagai unit penelitian. Sementara itu, dalam perkenalan dirinya, Kepala CICP 2020 mengapresiasi kinerja Kepala CICP sebelumnya karena sudah menguatkan pondasi manajemen CICP. Pondasi manajemen unit penelitian yang kuat tersebut diharapkan mampu membantu Kepala CICP berikutnya untuk meningkatkan kualitas kinerja dan output CICP.
Acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan dari Ibu Wenty kepada Office Manager CICP 2019, Happy Virgina P.N., S.Psi., yang masih lanjut bertugas pada tahun ini. Ibu Wenty menyampaikan apresiasi atas kinerja Happy sebagai Office Manager dalam membantu mengelola CICP selama setahun kemarin. Acara ini juga diisi dengan pemberian kenang-kenangan dan sertifikat kepada kepengurusan CICP tahun 2019 lalu sekaligus perkenalan kepengurusan CICP tahun 2020. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan makan bersama. (Humas CICP)
[smartslider3 slider=9]
Level pertama workshop focus pada pematangan konten tulisan dari setiap penelitian agar memiliki muatan contemporary culture. Contemporary culture memiliki pengertian bahwa artikel ilmiah yang akan dipublikasi memuat hal-hal yang terjadi pada kehidupan sehari-hari partisipan penelitian di CICP.
Pada workshop level 2, CICP memfasilitasi para asisten untuk mempelajari dasar-dasar menulis, menyunting, dan mengutip referensi secara tepat. CICP melibatkan asisten riset senior CICP, yaitu Gloria Excelcise Muhamad, S.Psi. untuk memaparkan materi tersebut.
WPP pada tahun ini diharapkan mampu menghasilkan artikel yang dapat dipublikasi di jurnal terakreditasi internasional maupun nasional. Setelah WPP dilaksnakan, artikel-artikel yang dihasilkan akan dikirim ke jurnal tujuan yang telah ditentukan. Peserta juga akan mendapatkan bimbingan intensif sampai artikel dapat terpublikasi. (Humas CICP)
[smartslider3 slider=7]
International Undergraduate Program (IUP) Fakultas Psikologi UGM berkolaborasi dengan Center for Indigenous and Cultural Psychology telah menyelenggarakan International Short Course pada tanggal 14-20 Oktober 2019 di Fakultas Psikologi UGM. Short course yang bertemakan “From Theory to Practice: Promoting Health and Education through Social and Cultural Psychology” tersebut mengundang tujuh pembicara diantaranya Prof. Andrew L. Geers, Ph.D yang berasal dari The University of Toledo, Amerika, Prof. Suzanne Helfer, Ph.D yang berasal dari Adrian College, Amerika, Giuseppina Marsico, Ph.D., Associate Professor dan Luca Tateo. Ph.D., Associate Professor yang berasal dari Centre for Cultural Psychology Aalborg University, Denmark, serta Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, MmedSc., Ph.D, Edilburga Wulan Saptandari, M.Psi., Ph.D, dan Theresia Novi Poespita Candra, M.Si yang berasal dari Fakultas Psikologi UGM.
TBT hari pertama diisi dengan penyampaian materi oleh kedua mentor. Pada sesi pertama, Edilburga Wulan Saptandari, M.Psi., Psikolog., Ph.D. menyampaikan materi dengan topikdengan topik “Introduction to writing qualitative research”. Pada sesi ini, pemateri menjelaskan beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan penulis riset kualitatif saat menulis penelitiannya, salah satunya adalah bahwa penulis riset kualitatif sebisa mungkin menulis risetnya dengan bercerita, bukan menempatkan jarak antara penulis dengan hasil risetnya. Meskipun begitu, Edilburga mengakui bahwa perkara bercerita ini menempatkan subjektivitas yang cukup kentara pada penulisan riset yang dilakukan.
Sesi kedua pada hari pertama diisi oleh Dr. Wenty Marina Minza, M.A. dengan topik “Styles in writing qualitative research”. Wenty menyampaikan beberapa “gaya cerita” yang bisa digunakan peneliti riset kualitatif serta penyampaian tahapan apa saja yang perlu dilakukan dalam menulis riset kualitatif. Pada sesi ini, Bu Wenty juga menekankan pentingnya penjelasan mengenai konteks dari riset yang dilakukan peneliti. Berdasarkan materi yang disampaikan oleh Luca Tateo, Ph.D (Luca) dan Giuseppina Marsico, Ph.D (Pina) dari Centre for Cultural Psychology Aalborg University, Denmark pada acara CICP Publication Workshop yang diselenggarakan 17-18 Oktober lalu, Bu Wenty menyampaikan bahwa konteks pada manuskrip penelitian di CICP sangat diperlukan sebagai keunggulan penulisan riset di CICP yang berbasis budaya dan indigenous.
Hari kedua TBT Advance difokuskan pada kegiatan aktif yang dilakukan peserta yaitu praktik menulis dan mempresentasikan hasil dari praktik menulisnya. Peserta diminta untuk mengerjakan tugas yang diberikan pada hari pertama untuk dipresentasikan pada hari kedua. Pada sesi ini kedua mentor memberikan masukan terkait hasil tulisan peserta.
Berbeda dengan TBT level Intermediate yang diselenggarakan April lalu, TBT level Advance menekankan pada praktik menulis langsung artikel penelitian dengan dipandu langsung oleh para mentor. Peserta yang mengikuti TBT Advance mayoritas adalah mahasiswa S3 yang sedang mengerjakan disertasi. (Humas CICP/Ratri Arista)
[smartslider3 slider=6]
Kamis dan Jumat (17-18/10) lalu, CICP baru saja menyelenggarakan acara CICP Publication Workshop yang diisi oleh Luca Tateo, Ph.D (Luca) dan Giuseppina Marsico, Ph.D (Pina) dari Centre for Cultural Psychology Aalborg University, Denmark. Workshop ini bertujuan untuk mewadahi proses pengembangan manuskrip penelitian yang berhubungan dengan topik psikologi dan budaya terutama budaya kontemporer sebagai gaya hidup (ways of thinking/being/doing). Target dari pengembangan manuskrip ini adalah manuskrip menjadi lebih matang dan layak untuk dipublikasikan di jurnal internasional terutama jurnal Culture & Psychology dan jurnal Human Arenas.
Hari pertama workshop diawali dengan pembukaan acara mengenai pengetahuan dasar tentang dunia penelitian. Luca dan Pina menjelaskan bahwa seorang peneliti, selain perlu mempertimbangkan standar publikasi seperti impact factor dan h-index, juga perlu memiliki minat yang tinggi pada riset yang sedang dijalani. Kemampuan menelaah manuskrip riset peneliti lain juga menjadi kemampuan yang berguna karena peneliti dapat saling belajar mengenai cara menulis riset yang baik.
Kegiatan pada hari pertama dilanjutkan dengan diskusi terarah yang dibimbing langsung oleh Luca dan Pina. Setiap peserta diberi waktu untuk menyampaikan manuskrip penelitiannya secara oral untuk selanjutnya mendapat peer-review dan masukan serta saran dari Luca dan Pina. Acara diakhiri dengan penyampaian beberapa inti permasalahan yang umum terjadi pada peserta dalam pengerjaan manuskrip serta solusi atas permasalahan tersebut.
Hari kedua workshop diisi dengan pemberian pengetahuan secara umum mengenai jurnal-jurnal yang dapat menjadi tujuan publikasi manuskrip riset peserta. Luca dan Pina juga menjelaskan mengenai karakteristik khusus dan fokus artikel yang berbeda di tiap jurnal. Luca dan Pina menghimbau kepada peserta mengenai keberadaan adanya jurnal predator yang dapat merugikan para peneliti. Selanjutnya, Luca dan Pina memandu tata cara mengirim artikel jurnal secara daring dengan mengambil contoh cara mengirim artikel ke jurnal Human Arenas. Luca dan Pina menekankan pentingnya menjaga artikel yang dikirim tetap anonim dan tata cara menjaga anonimitas tersebut. Di akhir sesi materi, Luca dan Pina menyampaikan alternatif cara berpikir out of the box tentang fenomena yang dijabarkan dalam riset. Alternatif cara berpikir tersebut diharapkan dapat diterapkan pada manuskrip riset masing-masing peserta sehingga manuskrip dapat menjadi semakin layak dan lolos publikasi jurnal internasional.
Rangkaian acara workshop ditutup dengan ucapan kesan oleh Luca dan Pina mengenai kegiatan workshop selama dua hari tersebut serta kesan umum Luca dan Pina mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia dan khususnya di Yogyakarta dimana kebudayaan di Indonesia sangat kaya dan memang patut untuk diteliti lebih lanjut. Direktur CICP Dr. Wenty Marina Minza, M.A. selaku perwakilan Fakultas Psikologi UGM kemudian memberi kenang-kenangan kepada Luca dan Pina sebagai pembicara. Rangkaian acara kemudian ditutup secara final dengan sesi foto bersama pembicara dan peserta. (Humas CICP/Ratri Arista)
- Mahasiswa S1 dan S2 Psikologi UGM angkatan 2018 atau 2019.
- Berminat melakukan penelitian
- Berkomitmen tinggi
- Mampu bekerja dalam tim maupun individu
Cara Pendaftaran:
- Curriculum Vitae dengan format yang telah disediakan. Format CV dapat diunduh di http://bit.ly/formatCV_SOR2019
- Esai mengenai indigenous psychology dengan ketentuan:
- Bagi pendaftar yang telah memiliki ide penelitian mengenai cluster tertentu, dapat melampirkan esai rencana penelitian dengan mencakup latar belakang masalah, variabel yang hendak diteliti, dasar teori, serta metode penelitian yang akan digunakan.
- Bagi pendaftar yang belum memiliki ide penelitian mengenai cluster penelitian, dapat melampirkan esai mengenai permasalahan indigenous psychology secara umum.
- Mahasiswa S2,S3 atau dosen yang memiliki data kualitatif minimal sampai koding awal atau sudah dianalisis.
- Diperbolehkan bagi mahasiswa s1 untuk berpartisipasi dengan syarat sedang melakukan riset kualitatif untuk kepentingan skripsi.
- Melakukan proses registrasi melalui link berikut ini: http://ugm.id/tbt2019
Sekilas tentang TBT Advance : Writing up Qualitative Research
TBT Advance : Writing up Qualitative Research adalah lanjutan dari TBT Intermediate. TBT Advance bertujuan untuk membantu peserta dalam proses penulisan hasil analisis kualitatif ke dalam bentuk tulisan. Sesi awal akan dimulai dengan materi singkat tentang introduction to writing qualitative research dan styles in writing qualitative research. Kemudian di sesi selanjutnya, peserta akan melakukan praktik menulis dan selama training berlangsung akan dibimbing secara full oleh para mentor. Sesi terakhir dalam training ini akan diisi oleh pemberian feedback dari para mentor.
Pelaksanaan :
Hari/tanggal : 25-26 Oktober 2019
Waktu : 08.00-16.00 WIB
Tempat : Fakultas Psikologi UGM
Pembicara
- Dr. Wenty Marina Minza, M.A. (link cv)
Peneliti kualitatif CICP Fakultas Psikologi UGM
Alumni Amsterdam Institute for Social Science Research Faculty of Behavioral and Social Sciences University of Amsterdam
Pada acara workshop yang digelar di ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM ini, Lemelson membahas teknik visual dalam antropologi psikologis dimulai dari penentuan topik riset dan juga dapat dimulai dari riset yang telah dilakukan yang ingin ditransformasikan ke dalam bentuk visual berupa film. Lemelson juga memaparkan aspek-aspek pembuatan film dengan metode VPA yang dimulai dari tahap pra-produksi, produksi, pasca-produksi, hingga tahap distribusi film itu sendiri dan pemasarannya. Dalam workshop ini, Lemelson memberikan contoh pembuatan film dengan media berupa karya-karyanya terdahulu yang mengeksplorasi kebudayaan di Indonesia.
Setelah acara workshop selesai, kegiatan acara KPI dilanjutkan dengan Screening Film dengan pemutaran film TAJEN: INTERACTIVE hasil produksi Lementhal Production dan tanya jawab interaktif di Auditorium G-100 Fakultas Psikologi UGM. Film ini mengangkat fenomena sabung ayam di daerah Negara, Bali ditinjau dari sisi pemilik ayam petarung, ayam petarung itu sendiri, dan pisau taji sebagai alat pendukung. Film TAJEN sendiri menggunakan pengambilan gambar yang unik sehingga membuat penonton seolah-olah berada di tengah-tengah fenomena tersebut. Setelah pemutaran film selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan juga penjelasan tambahan seputar konsep dari film TAJEN: INTERACTIVE.
Lemelson selain menjadi narasumber utama dalam acara KPI ini sebelumnya juga terlibat dalam suksesi KPI dimana Center for Indigenous & Cultural Psychology (CICP) pada tahun 2018 menjadi mitra penelitian payung KPI dengan tema Identity, Self-Esteem, Life Satisfaction, Attitude toward Multiculturalism among Young Adults from Five Ethnic Groups in Indonesia dengan lima grup etnis yaitu Minangkabau, Batak, Tionghoa, Jawa, dan Bali. Penelitian payung ini dilakukan bersama-sama CICP, KPI, dan Robert Lemelson Foundation. (Humas CICP/ Ratri Arista)
Hari pertama ICICP 2019 beragendakan Special Course & Workshop. Special Course ini dibuka oleh Uichol Kim dengan kuliah umumnya tentang Introduction to Indigenous & Cultural Psychology. Selanjutnya, program dilanjutkan oleh presentasi Saadi Lahlou dengan risetnya mengenai Installation Theory. Program Special Course diakhiri dengan presentasi dari Maxi Heitmayer tentang risetnya mengenai penggunaan Subjective Evidence-Based Ethnography (SEBE) dalam konteks dunia nyata. Di waktu yang bersamaan, diadakan pula 4 workshop dengan 4 pembicara berbeda di tempat yang berbeda antara lain Workshop tentang Psychology of Leadership and Entrepreneurship in the 21st Century oleh Prof. Annamaria Di Fabio, Ph.D.; Clinical Workshops of Systematic Treatment Selection (STS): 8 Principles and Therapeutic Tools oleh Satoko Kimpara, Ph.D; dan Workshop tentang Assessing Psychological Strengths and Well Being: Cross-Cultural Adaptation oleh Prof. Donald Saklofske.
Hari kedua dibuka dengan penampilan seni dan budaya Indonesia sebagai seremonial pembuka rangkaian acara ICICP 2019. Penampilan mengesankan tak hanya diberikan oleh para penampil tetapi juga dari para pembicara dengan menggunakan pakaian adat khas Indonesia. Seremonial dilanjutkan dengan sambutan dari ketua pelaksana, Wahyu Jati Anggoro, S.Psi., M.A. serta Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc., Ph.D.sebagai perwakilan dari Dekan Fakultas Psikologi UGM sekaligus sebagai Executive Board Chairman ICICP 2019. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kuliah umum dari keynote address dan presentasi oleh para peserta konferensi berbentuk Simposium Paralel.
Hari ketiga masih diisi oleh kuliah umum oleh beberapa keynote address serta simposium paralel. Rangkaian acara ICICP 2019 kemudian ditutup di area outdoor Fakultas Psikologi UGM. Acara seremonial penutupan dimulai dengan Deklarasi Asosiasi Psikologi Indigenos dan Kultural (APIK) yang juga disaksikan oleh perwakilan dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penampilan kesenian yang ditutup oleh penampilan dari Reog Ponorogo. Pentas kesenian ini juga dinikmati oleh para peserta, para pembicara, dan panitia ICICP 2019 sambil menari bersama mengikuti alunan musik tradisional nusantara. (Humas CICP/Ratri Arista)
Penelitian tentang dinamika kooperasi dan kompetisi dalam suatu organisasi adalah salah satu topik penelitian yang dikembangkan di bawah naungan cluster Relasi Sosial CICP. Penelitian ini mencoba untuk mengeksplorasi hal-hal yang berkaitan dengan kerja sama di dalam suatu lingkungan pekerjaan, seperti perasaan yang muncul sepanjang proses kerjasama berlangsung antar individu.
Subjek dari penelitian ini adalah para pekerja yang direkrut di beberapa kota seperti Makasar dan Yogyakarta. Saat ini tim peneliti sedang berada pada proses elaborasi data untuk dipersiapkan sebagai bahan menulis manuskrip. Mahasiswa yang terlibat pada penelitian ini diantaranya adalah Ika Adita Silviandari (S3 Intern), Zidnilma Fahmalia Hazrati (S1), Salsabila Afifa A. (S1), Putri Yunifa (S2), serta Prof. Dr. Faturochman, M.A turut serta membimbing proses penelitian ini.
Center Indigenous Cultural Psychology (CICP) melihat kesempatan ini sebagai pendukung dalam mendapatkan maupun mengelola data penelitian. Sebagai unit yang berbasis pada penelitian, CICP ingin membekali mahasiswa Psikologi, terutama research intern CICP, untuk mengenal dan memahami big data yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk menunjang penelitian-penelitian. Untuk itu, pada Selasa, 30 April 2019 diadakan acara “Big Data Workshop”. Acara yang berlangsung dari sore hingga malam hari ini dipandu oleh Yohanes Kartika Herdiyanto, S.Psi., M.A, seorang Dosen Psikologi dari Universitas Udayana dan sekaligus mahasiswa Program Doktoral Fakultas Psikologi. Mas Hendy, sapaan akrab di CICP, juga sedang melakukan internship penelitian di CICP dengan judul penelitian “Social Media & Mental Health of Youth Migration”. Pelatihan big data ini diselenggarakan di Auditorium G-100 Fakultas Psikologi dan dihadiri oleh 41 mahasiswa Magister dan mahasiswa S1 baik intern maupun non-CICP.
Penelitian dengan pendektan kualitatif kerapkali diaplikasikan dalam penelitian CICP. Mas Hendy mengatakan bahwa sejak teknologi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan pekerjaan manusia, banyak alat-alat teknologi yang dapat digunakan. Hal ini dapat dikatakan sebagai pendekatan kualitatif baru. Banyak media yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menjadi suatu maha data. Mas Hendy memberikan contoh seperti CCTV, absensi biometrik, data wearbale gadget (jam tangan, detang jantung, waktu tidur, langkah, jarak). Tidak hanya itu saja, dengan kemajuan teknologi yang ada juga dapat memanfaatkan survey monkey, google form, dsb. Sebagai media untuk pengambilan data. Mas Hendy juga mengatakan bahwa media sosial merupakan salah satu big data yang dapat dimanfaatkan, seperti twitter, youtube, instagram, facebook, dan sebagainya.
Setelah menjelaskan mengenai teori dan fenomena yang sedang terjadi, Mas Hendy juga menjelaskan mengenai software yang dapat membantu dan mempermudah dalam pengambilan maupun pengelolaan data, seperti Nvivo, RQDA, Atlas.ti, MAXQA dan sebagainya. Pada kesempatan ini, Mas Hendy memandu setiap peserta menggunakan software MAXQDA. Semua peserta sudah menyiapkan software ini sebelum acara dimulai. MAXQDA menjadi salah satu program penyimpanan data dengan proses coding dan kategorisasi. Melalui software ini dapat dilakukan analisis data kualitatif. Peserta diajarkan step by step untuk mendapatkan data, sebagai contoh peserta dipandu untuk mengambil data dari twitter dan youtube. Setelah mendapatkan data, peserta diajakan untuk melihat bagaimana pengelolaan data tersebut.
Peserta workshop merasa begitu terkagum dengan begitu mudah dan cepatnya data didapatkan. CICP berhasil mengadakan workshop ini untuk membekali para peserta dalam mengelola maupun menganalisis data. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi cikal bakal untuk mendukung penelitian-penelitian yang sedang berjalan.
Peserta TBT berasal dari berbagai institusi seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Al-Azhar Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, UIN Alauddin Makassar, Universitas Katolik Soegijapranata, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, dan juga dari kalangan akademisi Universitas Gadjah Mada. Peserta juga berasal dari berbagai jenjang pendidikan dimulai dari peserta tingkat sarjana hingga doktoral. Peserta yang telah mendaftar acara TBT: Grounded Theory ini memiliki berbagai macam motivasi untuk mengikuti pelatihan. Sebagian peserta berkeinginan untuk memperdalam ilmunya tentang penelitian kualitatif dengan jalan mengikuti pelatihan TBT: Grounded Theory ini, tidak sedikit pula yang mendaftar karena kebutuhan akademis seperti keperluan penyusunan disertasi, dan ada pula peserta yang termotivasi sebagai bahan persiapan menuju jenjang pendidikan doktoral.
Terdapat 4 sesi di hari pertama dan hari kedua. Pada hari pertama, TBT diisi oleh Dr. Bagus Riyono, M.A. Sesi-sesi awal diisi dengan kuliah mengenai konsep penelitian menggunakan Grounded Theory seputar konsep teori secara umum, kriteria teori yang baik, dan juga pemaparan tentang realita yang akan dihadapi peneliti Grounded Theory di lapangan. Salah satu hal yang perlu digarisbawahi menurut Bapak Bagus sebagai pembicara adalah bahwa penelitian menggunakan Grounded Theory bukanlah perkara yang mudah dijalani. Peneliti juga harus berani untuk menggali cerita sebanyak-banyaknya dari responden dan perlu menghindarkan diri dari mengajukan pertanyaan yang tidak relevan namun sayangnya masih sering dilakukan oleh kebanyakan peneliti untuk menggali cerita. Dr. Bagus Riyono juga ‘mewanti-wanti’ peserta terhadap fenomena mental breakdown yang lumrah dialami para peneliti Grounded Theory.
T. Novi Poespita Chandra, M.Si. mengisi agenda TBT di hari kedua. Di sesi pertama Ibu Novi menjelaskan Glaserian & Straussian Schools of Thought yang ada pada Grounded Theory dan memberikan contoh penelitian Grounded Theory dari penelitian Ibu Novi yang terdahulu dengan judul “Gerakan Sekolah Menyenangkan”. Sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan mengenai praktik analisis data yang terdiri dari data collecting, note-taking, coding dan categorization, memoing, sorting dan tahap akhir yaitu tahap writing. Dalam penjelasannya mengenai teknik dalam menganalisis data, Ibu Novi menekankan bahwa peneliti disarankan untuk memberikan tulisan keterangan waktu di kertas atau media lainnya setiap kali peneliti memutuskan untuk mengubah urutan suatu data sebagai bahan referensi di kemudian hari.
Hari pertama dan hari kedua diakhiri dengan praktik analisis data dan presentasi hasil diskusi peserta. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mempraktikkan hal-hal yang sudah didapat dari pembicara setiap harinya selama rangkaian acara berlangsung. Pada penutupan di hari pertama dan hari kedua diadakan foto bersama peserta dengan pembicara serta pemberian apresiasi dan kenang-kenangan dari panitia kepada masing-masing pembicara.
