• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Journal of Psychology
  • LPPM UGM
  • UGM Mail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Indigenous and Cultural Psychology
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang CICP
    • Selayang Pandang Indigenous Psychology
    • Sambutan Direktur
    • Sejarah CICP
    • Visi dan Misi
    • Staff
    • Anggota
  • Kegiatan
    • Konferensi
    • Konsentrasi Penelitian
      • Konsentrasi Penelitian 2021
      • Konsentrasi Penelitian 2020
      • Konsentrasi Penelitian 2019
    • Kegiatan Terlaksana
    • Kegiatan Rutin
      • CICP Publication Workshop
      • School of Researcher
      • THEORY BUILDING TRAINING
    • Kegiatan Mendatang
    • Magang Internal
      • Prosedur Magang Internal (UGM)
      • Rekap Magang Internal 2018
      • Rekap Magang Internal 2019
    • Magang External
      • Prosedur Magang Eksternal (Asing dan Non-UGM)
      • Alumni Magang Eksternal
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Working Paper Series
    • Buku
    • Policy Brief CICP
    • Artikel Lain
  • Home
  • Public Release

Persinggungan Budaya: Etnografi Multisensorik di Era Digital

  • Public Release
  • 25 Juli 2025, 11.43
  • Oleh : cicp

Senin (21/07)- Senin (21/07) — Dalam sesi yang menggugah pemikiran pada Summer Course “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP, topik psikologi dan budaya dibahas dalam perspektif baru melalui kuliah yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, M.A, seorang akademisi terkemuka, yang membawakan materi tentang pendekatan etnografi multisensorik di era digital, khususnya dalam penelitian antropologi. Penelitian antropologi berfokus pada konstruksi sosial terhadap indra, khususnya persepsi sensorik dalam proses sosialisasi, yang tidak terbatas pada persepsi fisik atau tubuh semata. Persepsi sensorik yang terbentuk secara sosial ini memiliki implikasi terhadap sisi afektif individu. Istilah afek dalam konteks ini mengacu pada kategori umum emosi dan sensasi yang memengaruhi cara kita memersepsi dunia dan bertindak di dalamnya, serta harus dipahami dalam kerangka tindakan sosial.

Dr. Zamzam menjelaskan bahwa konsep afek dan feel atau rasa sebaiknya dipahami sebagai keterlibatan individu terhadap konstruksi sosial atau objek tertentu. Dalam hal ini, pengalaman sensorik bersifat multisensoris, di mana indra kita saling terhubung dengan dua atau lebih subjek atau objek secara bersamaan. Sebagai contoh, saat melihat makanan, kita juga dapat mencium aroma makanan tersebut.

Saat ini, media digital telah menyatu dengan tubuh kita dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Etnografi visual digital merupakan bagian dari, sekaligus berpartisipasi dalam lingkungan material sensorik digital. Melalui pendekatan ini, kita dapat memahami bagaimana individu menciptakan hubungan dengan media digital, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan materi atau konten di dalamnya.

Salah satu studi yang dilakukan oleh Dr. Zamzam menggunakan pendekatan multisensoris di sebuah desa yang rawan tenggelam menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan berbagai indera mereka untuk merasakan dan memersepsi bahaya. Para partisipan mendengarkan suara alam seperti angin atau ombak laut, kemudian berdiskusi untuk saling berbagi persepsi. Emosi seperti rasa takut kemudian muncul karena suara alam tersebut dipersepsi sebagai isyarat bahaya.

Sesi ini ditutup dengan diskusi menarik bersama peserta Summer Course. Beberapa budaya pop indijinus, seperti “sound horeg” turut diperbincangkan bagaimana masyarakat mempersepsikan budaya tersebut dengan penerimaan dan perilaku.

Tags: SDG 11: Sustainable Cities and Communities SDG 4: Quality Education

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

International Summer Course

Public Release Selasa, 10 Juni 2025

2025 Beyond Boundaries: Reflection and Forward Looking Into Psychology and Culture An International Summer Course by Center for Indigenous and Cultural Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada Course Overview This summer course aims to […].

Social Cheating: An Exciting Topic at CICP’s Angkringan 6

Angkringan Kamis, 4 Juli 2024

Angkringan, a forum for discussing research, has reached its sixth episode this June. Held on June 14, 2024, from 3:30 PM to 5:00 PM and moderated by Dea Siti Hafsha, a CICP research intern, this […].

CICP’s Angkringan is Now on Episode 5! Discussing Diversity: Threat or Blessing?

Angkringan Kamis, 4 Juli 2024

The fifth Angkringan episode brought a fresh perspective by featuring two outstanding speakers. Luluk Syahrul Kamal, as the first speaker, presented the topic Religiosity: Symbolic Threats Bridging Fanaticism to Prejudice.

CICP Held the 3rd Angkringan, Discussing Communal Sharing as the Foundation for Youth Solidarity Actions

Public Release Kamis, 4 Juli 2024

The Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) at Gadjah Mada University held the 3rd Angkringan Workshop titled “Communal Sharing as the Foundation for Youth Solidarity Actions” on Wednesday, May 8, 2024.
Universitas Gadjah Mada

Alamat: Ruang D604 Gedung D lt. 6, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada,
Jalan Humaniora Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 INDONESIA

Jam Kerja: 08.00 – 16.00
Telepon: (+62)274-550435 ext. 604
Humas CICP: (+62)857-2868-1391
Fax: (+62)274-550436

Email: cicp@ugm.ac.id

Instagram: @cicp.ugm

© Universitas Gadjah Mada