• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Journal of Psychology
  • LPPM UGM
  • UGM Mail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Indigenous and Cultural Psychology
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang CICP
    • Selayang Pandang Indigenous Psychology
    • Sambutan Direktur
    • Sejarah CICP
    • Visi dan Misi
    • Staff
    • Anggota
  • Kegiatan
    • Konferensi
    • Konsentrasi Penelitian
      • Konsentrasi Penelitian 2021
      • Konsentrasi Penelitian 2020
      • Konsentrasi Penelitian 2019
    • Kegiatan Terlaksana
    • Kegiatan Rutin
      • CICP Publication Workshop
      • School of Researcher
      • THEORY BUILDING TRAINING
    • Kegiatan Mendatang
    • Magang Internal
      • Prosedur Magang Internal (UGM)
      • Rekap Magang Internal 2018
      • Rekap Magang Internal 2019
    • Magang External
      • Prosedur Magang Eksternal (Asing dan Non-UGM)
      • Alumni Magang Eksternal
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Working Paper Series
    • Buku
    • Policy Brief CICP
    • Artikel Lain
  • Home
  • Public Release

Memahami Psikologi Indigenous bersama Dr. Rogelia Pe-Pua: Rangkaian International Summer Course CICP

  • Public Release
  • 25 Juli 2025, 15.38
  • Oleh : admin

Kamis (17/07), Dr. Rogelia Pe-Pua (University of New South Wales) menjadi narasumber di summer course CICP 2025. Dalam presentasinya yang berjudul “Tracing the Trajectory of Indigenous Psychology: A Reflective Dialogue on Knowledge, Method, and Identity”, Dr. Pe-Pua menyoroti kontribusi penting Sikolohiyang Pilipino atau Psikologi Filipina dalam membangun fondasi psikologi yang kontekstual dan berbasis budaya. Ia menegaskan bahwa pendekatan psikologi yang relevan harus berakar pada pengalaman hidup, nilai-nilai, dan cara berpikir masyarakat lokal—bukan sekadar menerapkan teori Barat secara universal.

‘Sikolohiyang Pilipino’, sebagaimana dirintis oleh Virgilio Enriquez, menawarkan paradigma baru dengan memperkenalkan konsep kunci seperti kapwa (identitas bersama) dan loob (batin/kehendak), serta redefinisi psikologi sebagai studi atas kesadaran, pengalaman emosional, dan kebijaksanaan lokal. Gerakan ini tidak bersifat eksklusif, namun menekankan pentingnya indigenization dari dalam, melalui pembangunan teori dan metode yang bersumber dari konteks budaya masyarakat Filipina.

‘Sikolohiyang Pilipino’ didefinisikan sebagai suatu bentuk psikologi yang tumbuh dari pengalaman, cara berpikir, dan orientasi kultural masyarakat Filipina (Pe-Pua & Protacio-Marcelino, 2000). Pendekatan ini mereformulasi konsep dasar psikologi dengan menekankan aspek-aspek batiniah dan sosial khas budaya Filipina, seperti kalooban dan kamalayan (perasaan dan pengetahuan yang dialami), ulirat (kesadaran terhadap lingkungan sekitar), isip (informasi dan pemahaman), diwa (kebiasaan dan perilaku), serta kaluluwa (jiwa), sebagai kerangka untuk memahami kesadaran dan nurani manusia.

Dalam kerangka teoritisnya, terdapat empat aliran utama yang membentuk landasan ‘Sikolohiyang Pilipino‘. Pertama adalah psikologi akademik-ilmiah, yang berakar pada tradisi psikologi modern berbasis penelitian empiris. Kedua, psikologi akademik-filosofis, yang dikembangkan melalui pemikiran filosofis Barat, khususnya dalam konteks institusi keagamaan seperti yang dijumpai di lembaga pendidikan Katolik. Ketiga, psikologi etnis, yang menjadi pijakan utama dalam menyatukan tradisi akademik-ilmiah dan filosofis ke dalam satu kerangka nasional yang merefleksikan disiplin psikologi dan filsafat sebagai ilmu universal. Keempat, sistem psiko-medis yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan keagamaan sebagai elemen penting dalam menjelaskan gejala psikologis dan praktik penyembuhan. Pendekatan ini tidak hanya mencerminkan karakteristik budaya setempat, tetapi juga membuka ruang bagi integrasi lintas-disiplin yang memperkaya pemahaman terhadap manusia dalam konteks budaya yang kompleks.

Pe-Pua juga menguraikan metode penelitian khas yang dikembangkan dalam kerangka ini, seperti pagtatanong-tanong, pakikipagkuwentuhan, dan panunuluyan, yang menempatkan relasi peneliti dan partisipan secara setara. Metodologi ini memungkinkan pemahaman mendalam terhadap dinamika sosial melalui pendekatan naratif, partisipatif, dan reflektif. Lebih lanjut, ia menyoroti dampak signifikan gerakan ini dalam bidang pendidikan dan praktik psikologi, termasuk penggunaan bahasa lokal dalam pengajaran dan penulisan ilmiah. Hal ini menandai langkah penting dalam dekolonisasi pengetahuan serta penguatan kedaulatan budaya dalam disiplin akademik.

Sebagai penutup, Pe-Pua mendorong komunitas ilmiah untuk membangun psikologi global yang bersifat inklusif dan pluralistik, melalui kerja sama lintas-budaya dan pengakuan terhadap sistem pengetahuan lokal sebagai bagian dari pengembangan teori psikologi yang lebih representatif dan relevan secara sosial

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Symposium Handbook Released

Public Release Rabu, 10 Desember 2025

We are pleased to announce that the official Symposium Handbook for the CICP Symposium and Research Dissemination 2025 is now available for download. It includes the full schedule, keynote information, presentation details, room assignments, selected […].

Selected Abstract for Symposium and Research Dissemination “Beyond the Screen: Rethinking Media and Violence”

Public Release Selasa, 9 Desember 2025

We are pleased to announce the Selected Abstracts for the Symposium and Research Dissemination themed “Beyond the Screen: Rethinking Media and Violence.” Congratulations to all presenters whose works have been selected.

Antarmuka Budaya: Etnografi Multisensori di Era Digital

Public Release Selasa, 25 November 2025

Pada sesi Module 2 Lecture 1, Dr. Zamzam menyampaikan materi tentang pendekatan etnografi multisensori pada era digital, khususnya dalam penelitian antropologi. Penelitian antropologi berfokus pada konstruksi sosial terhadap indra, khususnya persepsi sensorik dalam proses sosialisasi, […].

Memikirkan Kembali tentang “Budaya”: Summer Course Menyorot Polikulturalisme sebagai Jalan Inklusivitas bersama Prof. Emiko Kashima

Public Release Jumat, 25 Juli 2025

Jum’at (18/07), sesi ketiga dari rangkaian modul 1 International Summer Course CICP 2025 “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP. Psikologi dan budaya kembali disorot dengan kuliah yang dibawakan oleh cendekiawan ternama Prof. Emiko Kashima dari […].
Universitas Gadjah Mada

Alamat: Ruang D604 Gedung D lt. 6, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Jl. Humaniora No. 1 Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 INDONESIA

Jam Kerja: 08.00 – 16.00
Telepon: (+62)274-550435 ext. 604
Humas CICP: (+62)857-2868-1391
Fax: (+62)274-550436

Email: cicp@cicp.psikologi.ugm.ac.id

Instagram: @cicp.ugm

© Universitas Gadjah Mada