We are pleased to announce that the official Symposium Handbook for the CICP Symposium and Research Dissemination 2025 is now available for download. It includes the full schedule, keynote information, presentation details, room assignments, selected abstracts, and access links for online participation.
Thank you to all presenters and participants for your contribution and enthusiasm toward this year’s symposium.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas


We are pleased to announce the Selected Abstracts for the Symposium and Research Dissemination themed “Beyond the Screen: Rethinking Media and Violence.”
Congratulations to all presenters whose works have been selected. We also extend our deepest appreciation to everyone who submitted their abstracts. Each contribution reflects a strong commitment to advancing critical perspectives on media, violence, and the intricate ways they interact in contemporary society. Your engagement strengthens our shared mission to promote culturally grounded, socially responsive, and academically rigorous dialogue.
Pada sesi Module 2 Lecture 1, Dr. Zamzam menyampaikan materi tentang pendekatan etnografi multisensori pada era digital, khususnya dalam penelitian antropologi. Penelitian antropologi berfokus pada konstruksi sosial terhadap indra, khususnya persepsi sensorik dalam proses sosialisasi, yang tidak terbatas pada persepsi fisik atau tubuh semata. Persepsi sensorik yang terbentuk secara sosial ini memiliki implikasi terhadap sisi afektif individu. Istilah afek dalam konteks ini mengacu pada kategori umum emosi dan sensasi yang memengaruhi cara kita memersepsi dunia dan bertindak di dalamnya, serta harus dipahami dalam kerangka tindakan sosial.
Jum’at (18/07), sesi ketiga dari rangkaian modul 1 International Summer Course CICP 2025 “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP. Psikologi dan budaya kembali disorot dengan kuliah yang dibawakan oleh cendekiawan ternama Prof. Emiko Kashima dari La Trobe University. Sesi yang berjudul “What is Polyculturalism? A New Perspective for Understanding Culture and Cultural Identity” ini mengajak para peserta untuk mengeksplorasi bagaimana budaya tidak tetap, melainkan saling terhubung dan terus berkembang.
Memahami Psikologi Indigenous bersama Dr. Rogelia Pe-Pua: Rangkaian International Summer Course CICP
Kamis (17/07), Dr. Rogelia Pe-Pua (University of New South Wales) menjadi narasumber di summer course CICP 2025. Dalam presentasinya yang berjudul “Tracing the Trajectory of Indigenous Psychology: A Reflective Dialogue on Knowledge, Method, and Identity”, Dr. Pe-Pua menyoroti kontribusi penting Sikolohiyang Pilipino atau Psikologi Filipina dalam membangun fondasi psikologi yang kontekstual dan berbasis budaya. Ia menegaskan bahwa pendekatan psikologi yang relevan harus berakar pada pengalaman hidup, nilai-nilai, dan cara berpikir masyarakat lokal—bukan sekadar menerapkan teori Barat secara universal.
Rabu (16/7), telah dilaksanakan rangkaian perkuliahan pertama International Summer Course CICP 2025. Topik yang dibahas dalam perkuliahan ini adalah “Dynamic Nature of Psychological Phenomena: Where Cultural Psychology Solves the Main Problem of General Psychology”. Perkuliahan ini menghadirkan Prof. Jaan Valsiner (Aalborg University) and Assoc. Prof. Giuseppina Marsico (the University of Salerno) sebagai narasumber. Valsiner dan Marsico menyoroti kekeliruan mendasar dalam tradisi psikologi umum yang cenderung mengabaikan peran sentral semiosis, yakni proses penciptaan dan pemaknaan pengalaman.
Yogyakarta, 14 Juli 2025 — Centre for Indigenous and Cultural Psychology (CICP), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, secara resmi membuka rangkaian International Summer Course tahun 2025 bertema “Beyond Boundaries: Reflection and Forward Looking into Psychology and Culture“. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini menandai peringatan 15 tahun perjalanan CICP dalam mengembangkan dan memperkuat pendekatan psikologi indigenous dan budaya di Indonesia dan negara-negara berkembang.
Wina Aulia, lulusan program magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus asisten peneliti di Center for Indigenous and Cultural Psychology, Fakultas Psikologi UGM, mempresentasikan penelitiannya dalam konferensi Asian Association of Social Psychology (AASP) 2025 yang diselenggarakan di Monash University Malaysia pada 10–12 Juli 2025.
Yogyakarta, 7 Juli 2025 — Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM kembali menggelar seri diskusi “Angkringan” yang ke-24 sebagai bagian dari rangkaian Pre-Summer Course Event
. Diskusi kali ini mengangkat tema “Resiliensi Kolektif Masyarakat Terdampak Bencana Iklim” yang dibawakan oleh Dr. Moh. Abdul Hakim dari Universitas Sebelas Maret, dengan Faiqal Dima Hanif, Asisten Peneliti CICP, sebagai moderator.
Kamis (26/06) lalu, Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM menyelenggarakan “Angkringan” ke-23 bertajuk “Exploration of Ethnic Identity and the Meaning of Moke”. Angkringan kali ini merupakan serial dari rangkaian pre-Summer Course 2025. CICP menghadirkan narasumber yang merupakan peneliti mengenai ‘Moke’, yaitu Dr. Indra Yohanes Kiling dan Gracia Ida, dimoderatori oleh Asisten CICP Della Rovita Ndoen.
Lusiana Yashinta Bahas Identitas Muslimah Muda dalam Era Mobilitas Global di Simposium Internasional
Yogyakarta, 9 Mei 2025 – Lusiana Yashinta Ellysa Putri, M.Sc., Research Associate dari Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, mempresentasikan penelitiannya secara daring dalam simposium internasional
Yogyakarta, 28 Mei 2025 — Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM kembali menggelar seri diskusi “Angkringan”, kali ini memasuki edisi ke-22 dengan tajuk
Yogyakarta, 23 Mei 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM kembali menggelar kegiatan rutin “Jumatan CICP” yang kali ini mengangkat topik “Langkah demi Langkah Analisis Data Kualitatif.” Acara ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di ruang CICP. Kegiatan ini difasilitasi oleh F. A. Nurdiyanto, Research Associate di CICP.
Yogyakarta, 25 April 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM sukses menyelenggarakan diskusi rutin Angkringan #22
dengan tema “Kuasa dalam Relasi Pertemanan Santri” pada Jumat (25/4) secara daring melalui Zoom Meeting.
Yogyakarta, 10 April 2025 – Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP) bersamai Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan CICP Exchange Forum: Cross-Cultural International Research pada Senin, 10 April 2025 pukul 10.00–11.30 WIB. Forum ini dilaksanakan secara hybrid, bertempat di Fakultas Psikologi UGM dan melalui platform Zoom, serta menghadirkan dua dosen tamu yang ahli dalam isu psikologi lintas budaya dan kemanusiaan.
Jum’at, 14 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan kegiatan Jum’atan yang dikhususkan untuk internal CICP. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jum’at (14/03) pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di Kantor CICP, Lantai 5 Gedung D, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Jum’atan kali ini membahas topik mengenai Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA). CICP menghadirkan Lusiana Yashinta, M.Sc., Research Associate CICP, sebagai fasilitator. Lusi telah melakukan beberapa analisis CDA dalam perjalanan risetnya.
Minggu, 9 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) telah sukses melaksanakan sesi kelima dalam rangkaian School of Researcher (SoR) 2025. Sesi ini mengangkat tema “Photovoice dalam Penelitian Psikologi”, dengan menghadirkan Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. sebagai pembicara utama.
Selama sesi yang berlangsung secara luring dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB di Gedung Psikologi UGM, para peserta yang merupakan peneliti muda di CICP aktif berdiskusi mengenai sejarah dan konsep photovoice dalam penelitian psikologi. Pembicara menjelaskan bagaimana metode ini dapat digunakan selain sebagai alat untuk memahami pengalaman dan perspektif individu melalui dokumentasi visual tetapi juga bisa menjadi metode kolaboratif dengan peserta dan aksi nyata yang bisa dilakukan.
Selain pemaparan materi, sesi ini juga mencakup praktik langsung. Para peserta dibagi menjadi sekelompok 2 orang untuk melakukan eksplorasi visual dan berbagi pengalaman dalam menggunakan photovoice sebagai bagian dari penelitian mereka. Praktik ini memungkinkan peserta untuk memahami bagaimana pendekatan ini dapat memberikan wawasan mendalam terhadap fenomena sosial dan psikologis yang sedang diteliti.
Dengan terlaksananya sesi ini, diharapkan para peserta dapat mengaplikasikan metode photovoice dalam penelitian mereka ke depan, serta semakin memperkaya pemahaman mengenai pendekatan kualitatif dalam psikologi.
Sabtu, 8 Maret 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) telah sukses melaksanakan sesi keempat dalam rangkaian School of Researcher (SoR) 2025. Sesi ini mengangkat tema “Analisis Koding”, dengan menghadirkan Ibu Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D. sebagai pembicara utama.
Sesi yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB dengan bertempat secara hybrid di Gedung Psikologi UGM ini, berfokus pada proses pembuatan tema dan penugasan dalam membentuk kode-kode dari kutipan-kutipan partisipan dalam penelitian kualitatif. Peserta diajak untuk memahami perbedaan antara deductive coding yang berangkat dari teori atau kerangka konsep yang telah ada, dan inductive coding, yang mengizinkan pola-pola temuan muncul secara alami dari data. Selain itu, mereka juga diberikan latihan langsung dalam mengidentifikasi dan mengelompokkan kode-kode dari kutipan partisipan untuk membentuk tema yang lebih besar.
Melalui sesi ini, diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai teknik analisis data kualitatif dan mampu menerapkannya dalam penelitian mereka sendiri. Kegiatan ini juga memperkaya keterampilan para peneliti muda di CICP dalam menyusun analisis yang sistematis dan berbasis data.
Jum’at (07/03) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) menyelenggarakan School of Researcher (SOR) bagian ketiga tentang “Kepenulisan Manuskrip Kualitatif”. SOR ini khusus bagi seluruh asisten peneliti CICP untuk memberikan pemahaman dan gambaran mengenai strategi penulisan kualitatif. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jum’at (07/03), pukul 13.00-17.00 WIB, dilaksanakan secara hibrida yaitu, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di Ruang D404 Gedung Psikologi, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta, 28 Februari 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar kegiatan “Angkringan CICP” dengan tema “People of The Barracks”: Meta-Beliefs of a migrant community in West Kalimantan, Indonesia. Ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wenty Marina Minza, dengan Lintang sebagai asisten yang membantu dalam proses penelitian. Acara ini berlangsung secara daring, mulai pukul 15.30 hingga 16.30 WIB.
Dalam pemaparannya, Kristoforus Lintang, yang biasa disapa Lintang, menerangkan tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengeksplorasi meta-kepercayaan di antara masyarakat Madura Sambas yang dimukimkan kembali di Kalimantan Barat, Indonesia, yang terkena dampak Konflik Sambas 1999. Lintang, menerangkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan Live-in selama 2 periode, Juni-Agustus dan September-Oktober tahun 2023.
Minggu (23/02), Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) menyelenggarakan School of Researcher (SOR) bagian kedua tentang “Dasar-dasar Penelitian Big Data: Pengenalan Analisis Media Sosial”. SOR diperuntukan khusus bagi seluruh internal dan calon asisten peneliti CICP. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu (23/02), pukul 08.00-12.00, yang dilaksanakan secara hibrida, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di Ruang D404 Gedung Psikologi, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta, 22 Februari 2025 – Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar kegiatan rutin “School of Researcher 2025”. SoR 2025 ini akan berlangsung selama 5 bagian dan dibuka khusus bagi calon-calon peneliti CICP. Tiap sesi akan berupa materi yang berbeda dan mengundang tamu pembicara yang ahli dalam bidangnya. Rangkaian acara ini dilaksanakan sejak 22 Februari hingga 9 Maret 2025 dan dilakukan secara luring (offline) di Fakultas Psikologi UGM.
Pada sesi pertama, tertanggal 22 Februari dibuka dengan Scoping Review yang dibawakan oleh Pak Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog. Dalam penjelasannya, Pak Tio yang akrab disapa, menjelaskan bagaimana systematic review merupakan metode dengan tingkat bukti tertinggi dalam rantai metode penelitian. Pak Tio, juga menjelaskan tahapan-tahapan dalam melakukan kajian literatur. Selain penjelasan, terdapat juga sesi praktik langsung. Peserta diminta untuk melakukan praktik Scoping Review bersama kelompok dan mempresentasikannya. Ada juga sesi berbagi informasi terkait mencari literatur yang cepat dan praktis dalam
Jum’at (14/02) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan Angkringan kedelapan belas dengan tema “Young Men Navigating Pathways to Livelihood in Resettlements of West Kalimantan, Indonesia”. Topik ini diulas bersama tamu super, Lana Savira Kusuma Dewi, Asisten Peneliti CICP, dan moderator, Wina Aulia.
Kamis (30/01) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan Angkringan ketujuh belas dengan tema “Stigma, Support, and Ideation About Suicide in Indonesian Twitter”. Topik ini diulas bersama tamu super, Mas Afrizal Hasbi Azizy, CICP Researcher, dan moderator, Faiqal Dima Hanif.
Kegiatan ini menghadirkan F. A. Nurdiyanto sebagai fasilitator, yang membahas pentingnya refleksivitas dalam penelitian kualitatif. Refleksivitas merupakan aspek krusial dalam penelitian sosial, khususnya dalam memahami bagaimana posisi dan pengalaman peneliti dapat memengaruhi hasil penelitian.
Dalam penelitian kualitatif, refleksivitas menjadi aspek krusial yang tidak dapat diabaikan. Berbeda dengan deskripsi yang sekadar menyajikan data secara netral, analisis justru menghubungkan berbagai elemen untuk memahami makna yang lebih dalam. Setiap peneliti membawa latar belakang yang unik—baik dari segi gender, kelas sosial, ideologi, maupun sistem kepercayaan—yang pada akhirnya memengaruhi cara mereka menjalankan riset.
Oleh karena itu, refleksi diri menjadi langkah awal yang esensial untuk memahami bagaimana posisi dan pengalaman pribadi membentuk cara kita mengonstruksi realitas penelitian. Catatan lapangan atau field memo tidak hanya berisi ringkasan temuan tetapi juga refleksi peneliti tentang isu dan partisipan yang terlibat. Penelitian kualitatif tidak bertujuan menghasilkan kesimpulan absolut, melainkan menangkap dinamika sosial yang selalu berubah, dengan kesadaran penuh akan keterbatasan yang ada.
Jumatan CICP kali ini bersifat eksklusif dan terbatas bagi internal CICP. Acara ini menjadi kesempatan berharga untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman langsung dengan fasilitator.
Diskusi ini diadakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 24 Januari 2025, pukul 15.30-17.10 WIB. Acara ini terbuka untuk umum, dengan harapan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai reaksi psikologis dan sosial yang muncul di dunia maya terkait kasus Mas Bechi.
Kasus Mas Bechi menjadi sorotan publik karena memicu berbagai reaksi warganet, mulai dari dukungan hingga kecaman. Dalam diskusi ini, Faiqal, panggilan akrabnya, membahas bagaimana pola interaksi di media sosial membentuk opini publik serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat.
Faiqal juga membahas bagaimana pola interaksi di media sosial membentuk opini publik serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Salah satu konsep utama yang dibahas adalah online disinhibition effect, yaitu fenomena di mana individu cenderung lebih bebas dalam mengekspresikan opini atau emosi secara ekstrem di dunia maya dibandingkan di dunia nyata. Hal ini dapat berdampak pada pola komunikasi, baik dalam bentuk dukungan maupun serangan verbal terhadap pihak yang terlibat dalam kasus ini. Selain itu, diskusi juga akan membahas peran kontrol sosial dalam membentuk sikap masyarakat terhadap isu-isu yang viral. Media sosial dapat menjadi alat yang memperkuat norma sosial, tetapi juga dapat menjadi tempat di mana sanksi sosial melemah karena anonimitas dan jarak psikologis yang ada di dunia maya.
Dengan diadakannya diskusi ini, diharapkan mahasiswa dan masyarakat dapat lebih memahami bagaimana psikologi siber bekerja dalam membentuk persepsi publik dan bagaimana bersikap kritis dalam menghadapi isu-isu viral di dunia maya.
Halo Sobat Kultur! 👋🏻
CICP kembali membuka kesempatan bagi teman-teman Fakultas Psikologi UGM yang ingin menjadi bagian dari unit kami sebagai Intern.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pendaftaran, yaitu:
- Mahasiswa S1 Psikologi UGM minimal semester 4 atau Mahasiswa S2 Psikologi UGM minimal semester 2
- Memiliki minat dan komitmen kuat pada penelitian
- Menguasai dasar-dasar metode penelitian
- Menguasai dasar penggunaan Microsoft Word, Canva, dan/atau WordPress menjadi nilai tambah
Deskripsi Tugas Umum:

Jum’at (24/01), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan rapat besar untuk periode 2025. Rapat diselenggarakan secara hibrida, daring melalui Zoom Meeting dan tatap muka di ruangan A-215 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Seluruh internal CICP menghadiri rapat dan berpartisipasi aktif pada diskusi perencanaan kegiatan CICP selama tahun 2025 mendatang. Beberapa hal yang dibahas, yaitu: persiapan rekrutmen untuk calon internal CICP baru, sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP), sosialisasi roadmap kegiatan mendatang, serta evaluasi kegiatan pada tahun sebelumnya.
Kuliah tamu ini menghadirkan tiga narasumber yang ahli di bidangnya:
Kursus ini terbagi dalam tiga seri dengan fokus pembelajaran yang mendalam. Seri pertama, memberikan pengantar tentang paradigma penelitian kualitatif, membahas teori dasar dan perspektif metodologi yang relevan dalam penelitian psikologi. Seri kedua membahas dasar-dasar serta rancangan penelitian kualitatif. Seri ketiga akan mengupas tuntas tentang analisis data kualitatif, dengan penekanan pada teknik-teknik dan aplikasi praktis dalam pengolahan data penelitian.
Pada seri pertama dibagi menjadi enam sesi.
Sesi 1: Pengantar Metode Penelitian Kualitatif yang dibawakan oleh Prof. Subandi, M.A., Ph.D. Dalam sesi ini, Prof. Bandi berfokus pada makna mendalam dan pemahaman kontekstual terhadap pendekatan penelitian kualitatif. Beliau juga menekankan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali dan memahami fenomena melalui perspektif partisipan, bukan sekadar menguji teori atau mendapatkan generalisasi. Penelitian juga tidak hanya melihat fenomena secara terpisah tetapi juga mempertimbangkan konteks holistik dan bagaimana berbagai faktor saling terkait. Sesi di moderatori oleh Syifa Fauziah salah satu asisten peneliti CICP.
Sesi 2: Paradigma Interpretatif dalam Penelitian Kualitatif oleh Dr. YB. Cahya Widiyanta, M.Si. Dalam sesi ini, Pak Cahya menekankan bahwa paradigma interpretatif muncul sebagai respons terhadap positivisme, yang dianggap kurang mampu memahami makna subjektif dalam kehidupan sosial. Pak Cahya juga menekankan paradigma ini berfokus pada pemaknaan, konteks, dan pengalaman individu sebagai bagian dari realitas yang dikonstruksi secara sosial. Dalam penelitian kualitatif dengan perspektif paradigma interpretatif, beliau menggunakan bahasa dan narasi untuk memahami fenomena. Sesi ini dimoderatori oleh Fadhilah Sofiyana, Asisten Peneliti CICP.
Sesi 3: Paradigma Transformatif dalam Penelitian Kualitatif oleh Elga Andriana, M.Ed., Ph.D. Ibu Elga dalam paparannya, menekankan paradigma transformasi dalam penelitian kualitatif dirancang untuk mengatasi ketimpangan kekuasaan, ketidakadilan, dan isu sosial melalui pendekatan inklusif dan partisipatif. Beliau juga mengatakan pentingnya keadilan sosial dan nilai-nilai etis, dengan tujuan memberdayakan komunitas yang terpinggirkan. Dalam paradigma ini metode yang digunakan beragam, seperti Participatory Action Research (PAR), Photovoice, dan Critical Discourse Analysis, yang semuanya bertujuan untuk memahami dan mengubah dinamika sosial dengan melibatkan partisipasi aktif dari komunitas sasaran. Sesi ini di moderatori oleh Yutia Cesarinda, Asisten Prodi S3 Psikologi.
Sesi 4: Paradigma Konstruktivis dalam Penelitian Kualitatif oleh Dr. Wenty Marina Minza. Dalam sesi ini, Bu Wenty menggambarkan paradigma konstruktivisme sebagai pandangan bahwa elemen-elemen psikologis, seperti pikiran, diri, dan emosi, tidak hanya merupakan hasil dari pengalaman individu yang bersifat internal, tetapi juga merupakan hasil dari interaksi sosial dan budaya di mana individu tersebut berada. Beliau juga menjabarkan bahwa realitas yang dipahami seseorang dianggap sebagai hasil dari konstruksi bersama melalui proses sosial, seperti komunikasi, norma, dan wacana. Sesi ini dimoderatori oleh Ahmad Yusrifan Amrullah, Asisten Uni CICP.
Sesi 5: Paradigma Kritis dalam Penelitian Kualitatif
Pada hari Rabu, 20 November 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) kembali mengadakan Angkringan ke-14 secara hybrid bertajuk “Angkringan 14 – Breaking Barriers of Disability and Mental Health: Learning from Indonesian Deaf Communities.” Sesi yang penuh wawasan ini mengangkat tantangan kesehatan mental yang dihadapi oleh komunitas Tuli dan berbagi perspektif berharga tentang cara mengatasi hambatan terkait disabilitas dan kesehatan mental.
(22/11) Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) telah melaksanakan Workshop Penulisan Publikasi: Konsinyasi ke 2 Penulisan Manuskrip. Konsinyasi tersebut dilaksanakan selama dua hari (21-22 November 2024) pada pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Artotel Yogyakarta.
(28/10) Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan Workshop Penulisan Publikasi: Konsinyasi 1 Penulisan Manuskrip. Konsinyasi tersebut dilaksanakan selama dua hari (28-29 Oktober 2024) pada pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Hotel Sagan Heritage.
Pada Jum’at (18/10), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) menyelenggarakan Angkringan ketiga belas dengan topik “Kesehatan Jiwa Masyarakat: Perspektif Konsumen dan Aksi Komunitas”. Angkringan kali ini dilaksanakan secara hibrida, daring melalui platform Zoom dan tatap muka di Ruang D-506 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Angkringan yang membahas kesehatan mental masyarakat dengan integrasi budaya dan komunitas ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya.
Pada Jum’at (4/10), Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) mengadakan kegiatan Jumatan CICP yang membahas mengenai “Diseminasi Hasil Penelitian Angkringan sebagai Ruang Komunal dan Interaksi Sosial”. Jumatan kali ini disampaikan oleh Faiqal Dima Hanif yang merupakan salah satu Asisten Peneliti CICP yang menjadi perwakilan dari tim penelitian. Jumatan bersifat eksklusif karena dihadiri oleh internal CICP sebagai ruang diskusi dan pengayaan pengetahuan riset bagi asisten peneliti CICP. Sesi tanya jawab digunakan sebagai ruang diskusi dan pemberian masukan untuk penelitian yang sedang dibahas.
CICP dan CLSD Sukses Gelar Student-Led Conference: Puncak Penutupan International Summer Course 2024
Acara yang diadakan secara hybrid ini diikuti oleh mahasiswa UGM, baik dari jenjang S2 maupun S3, serta para peneliti yang memiliki minat dalam bidang psikologi lintas budaya dan perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupan. Student-Led Conference, yang menjadi puncak acara, memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempresentasikan manuskrip penelitian yang telah mereka kerjakan selama summer course berlangsung. Dua panelis, yakni Dr. Elga Andriana dari UGM dan Dr. Andrian Liem dari Monash University Malaysia, turut hadir memberikan masukan konstruktif terhadap manuskrip yang dipresentasikan.
Tiga Modul Pembelajaran Inti
Selama summer course, peserta mempelajari tiga modul utama, yakni:
Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) bersama Center for Life-Span Development (CLSD) menyelenggarakan seminar internasional dengan tema “Issues in Knowledge Construction and Forms of Resistance” untuk Mahasiswa (S1, S2, dan S3) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Seminar dilaksanakan secara luring di Gedung A Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Topik yang menarik ini dibahas dan didiskusikan secara mendalam bersama dua narasumber yang ahli di bidangnya. Narasumber tersebut adalah Raffaele Modugno (Mahasiswa Doktoral, Universitas Salerno Italia) dan Olivia Hardiwirawan (Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada).
International Summer Course 2024 yang merupakan kolaborasi antara Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) dan Center for Life-Span Development (CLSD) yang telah diselenggarakan pada tanggal 17 September 2024 dan akan berakhir pada 18 Oktober 2024. Summer Course yang bertemakan “Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Interventions” dilaksanakan secara luring dan daring.
International Summer Course 2024 yang merupakan kolaborasi antara Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) dan Center for Life-Span Development (CLSD) yang telah diselenggarakan pada tanggal 17 September 2024 dan akan berakhir pada 18 Oktober 2024. Summer Course yang bertemakan “Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Interventions” dilaksanakan secara luring dan daring.
Narasumber kali ini adalah Antika Widya Putri, atau lebih sering disapa Antik, menarasikan adanya perubahan standar kecantikan wanita Indonesia selama dan setelah kolonial. Pada masa kolonial, kecantikan didominasi oleh standar Barat, seperti tubuh langsing, rambut lurus, hidung mancung, dan kulit putih. Standar inilah yang mempengaruhi persepsi masyarakat bahkan hingga saat ini. Wanita Nusantara berbondong-bondong memenuhi standar kecantikan tersebut. Hingga tidak jarang mengakibatkan rasisme saat standar kecantikan tidak terpenuhi.
Feminisme poskolonial berupaya menghapus subalternitas perempuan Timur dengan mengakui keberagaman kecantikan, membangun pengetahuan inklusif, dan menolak dominasi hegemoni Barat. Tujuannya adalah agar perempuan Timur dapat mengendalikan identitas dan kecantikan mereka sendiri. Masyarakat Nusantara perlu membangun pengetahuan, memberi pengakuan dan penghargaan atas keberagaman kecantikan di berbagai budaya.
Kecantikan perempuan tidak harus berfokus pada bentuk fisik, tapi juga terletak pada kepribadian, kecerdasan, dan upaya menjadi diri sendiri.
“Jika bisa beragam, mengapa harus seragam?”

Cultural Dynamics and Life-Span Development:
Research Approaches and Practical Interventions
Collaborating with Indonesian and global experts, CICP & CLSD Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada officially presents Cultural Dynamics and Life-Span Development: Research Approaches and Practical Intervention.
[📝 PROGRAM]
16 lecture sessions (4 modules) present the latest advances in community research and intervention from a psychological and multidisciplinary perspective.
[👤 WHO SHOULD JOIN]
This summer course is open to students, researchers, practitioners, policymakers, and participants from other universities, both domestic and international with a limited quota.
[🗒 TIME AND PLACE]
September 17th – October 8th, 2024
via Zoom Meeting, eLOK, and Google Classroom
[📁 FACILITIES]
– Certificate
– Transferable course credit for students at all level degrees (this course is equal to 96 hours/2 SKS)
Registration dates 1 August -6 September, 2024 through:
⬇⬇⬇
ugm.id/SCCultureLifeSpan
For more information about this program, please kindly check:
⬇⬇⬇
https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/summer-course/
All session will be delivered in English. Closed captioning will be provided. Full and 50% scholarships are available.
Should you have further questions, do not hesitate to contact us at:
Email: cicp@cicp.psikologi.ugm.ac.id | clsd.psikologi@cicp.psikologi.ugm.ac.id
Website: ugm.id/CLSDSummerCourse
Instagram: @cicp.ugm | @clsd.ugm
kembali melaksanakan acara Angkringan CICP pada, Jumat, (16/4), yang merupakan sesi kesepuluh dengan tema “Dekolonisasi dalam Narasi Hubungan Makassar-Marege di Indonesia dan Australia”
Anda juga dapat mengetahui informasi lain mengenai konferensi yang telah diikuti CICP melalui link ini.
Pada Jumat, 26 Juli 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) kembali menggelar acara Angkringan CICP, yang kali ini merupakan sesi kesepuluh dari rangkaian diskusi bertema “Psikologi Nusantara, Sudah Sampai Mana?” Acara ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dari pukul 15.00 hingga 17.00, dihadiri oleh 78 peserta, termasuk pelajar sekolah menengah yang menunjukkan minat besar pada topik psikologi nusantara.
Jumat, 12 Juli 2024, Pusat Studi Psikologi Indijinus dan Budaya (CICP) sukses menggelar Angkringan CICP ke-8 dengan tema “Menemukenali Psikologi Nusantara.” Acara yang diadakan secara daring melalui platform Zoom ini menampilkan Olivia Hardiwirawan sebagai pembicara utama. Acara dimulai pada pukul 15.30 dan berlangsung hingga 17.00, menarik antusiasme dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, peneliti, serta individu yang penasaran dengan kajian psikologi nusantara.
CICP mengadakan workshop untuk umum tentang penyusunan policy brief selama dua hari pada 29-30 Juli 2024 pada pukul 08.00-12.15 WIB.
Hari pertama, penyampaian materi oleh Dr. Diana Setiyawati. Pemateri menyampaikan mengenai pengenalan policy brief kepada peserta, contoh-contoh policy brief, langkah-langkah penyusunan policy brief, strategi melakukan audiensi policy brief pada stakeholder, dan diakhiri dengan membuat tulisan singkat mengenai policy brief berdasarkan tiap-tiap poin sesuai format yang telah disediakan. Pemateri memberikan feedback pada beberapa tulisan untuk perbaikan policy brief yang telah dibuat oleh peserta sebelum kegiatan.
Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) mengadakan School of Researcher (SOR) bertajuk Method Matters: Building Capacity for Cutting-Edge Research
. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih calon asisten peneliti CICP sebelum berkecimpung langsung pada penelitian yang sudah dan yang akan berjalan di CICP. Dalam rangka mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas, program ini berfokus pada peningkatan keterampilan dan kapasitas para peneliti muda agar mampu menghasilkan penelitian yang inovatif dan berkualitas tinggi.