Dalam Angkringan ke #34, CICP UGM menghadirkan Fadhliah Sofiyana Noor Saprowi (Sofi) untuk berbagi hasil penelitiannya mengenai keterhubungan manusia dengan alam, dengan dipandu oleh Rifka Annisa Puspitasari sebagai penanggap. Diskusi ini berangkat dari kegelisahan bahwa sebagian besar teori psikologi mengenai hubungan manusia dan alam masih bertumpu pada kerangka Barat, yang dikenal dengan istilah WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic). Padahal, pandangan masyarakat Indonesia terhadap alam dibentuk oleh konteks budaya dan sosioekonomi yang sangat berbeda dari populasi yang biasa diteliti dalam literatur tersebut.
Sofi menekankan pentingnya membicarakan isu lingkungan di Indonesia secara jujur, tanpa perlu merasa tersinggung, mengingat kondisi alam yang semakin memprihatinkan saat ini. Ia menggambarkan keprihatinannya dengan sebuah ungkapan bahwa alam seolah “diprostitusikan”, terus-menerus dieksploitasi padahal seharusnya dicintai dan dijaga. Refleksi ini muncul dari pengalaman pribadinya menyaksikan langsung kebakaran hutan di Kalimantan pada tahun 2018, sebuah peristiwa yang menurutnya bukan kejadian sekali saja melainkan berulang.
Dalam paparannya, keterhubungan manusia dengan alam dijelaskan melalui tiga dimensi: eksperensial, kognitif, dan emosional. Sebagai contoh, aroma sekuntum bunga yang tercium saat berada di lingkungan beralam segar dapat membangkitkan ingatan nostalgia tertentu. Namun, momen-momen semacam ini menurutnya kian jarang terjadi seiring hilangnya stimulus alam, seperti punahnya fauna-fauna kecil semisal kunang-kunang.
Kerangka nature relatedness yang digunakan dalam penelitian ini diturunkan dari Self-Determination Theory (SDT) dan mencakup empat proses: rasa memiliki (perasaan bahwa diri adalah bagian integral dari alam semesta, bukan pengamat atau penguasa), timbal balik (relasi yang saling memberi dan menerima, bukan sekadar eksploitatif), kebersamaan (rasa persaudaraan dengan makhluk hidup lain), dan sinkronisasi (penyelarasan ritme biologis-psikologis manusia dengan ritme alam seperti siklus siang-malam dan pergantian musim).
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan metode pengumpulan data berupa observasi partisipan dan wawancara, dianalisis secara tematik, dan diperkuat kredibilitasnya melalui triangulasi. Sembilan partisipan dilibatkan, terdiri dari tiga dewasa muda, tiga dewasa tengah, dan tiga dewasa tua, semuanya berasal dari suku Jawa di Desa Plosorejo. Dalam proses pengambilan data di lapangan, Sofi menjelaskan bahwa pendekatannya dimulai dengan membangun pertemanan terlebih dahulu bersama warga, baru kemudian secara natural menggali detail-detail budaya mereka tanpa membuat narasumber merasa tertekan atau diinterogasi.
Hasil penelitian mengungkap kayanya keyakinan spiritual masyarakat setempat terhadap alam. Lima batu yang dipercaya berasal dari letusan gunung api dianggap keramat dan dihuni roh, hingga jalan desa pun dialihkan demi tidak mengganggu keberadaannya, disertai ritual khusus sebelum batu dipindahkan. Kondisi geografis desa yang relatif terisolasi turut memperkuat ketergantungan warga pada alam — listrik baru masuk pada dekade 1980-an dan jalan beraspal pada 1990-an. Berbagai kepercayaan lain juga hidup di tengah masyarakat, seperti larangan membuat sumur karena dianggap membawa penyakit, serta aturan menanam pohon beringin yang terkait dengan upacara adat. Ritual seperti selamatan dan cok bakal rutin dilakukan untuk menjaga relasi baik dengan alam dan roh, termasuk tradisi meminta izin sebelum memulai suatu aktivitas.
Sungai menjadi elemen alam yang dihormati sebagai sumber kehidupan, digunakan untuk mandi dan penyucian diri, lengkap dengan ritual penyucian sebelum digunakan meski anak-anak dilarang berenang di sana karena legenda tertentu. Budaya kebersamaan yang kuat juga tampak dari kebiasaan memanjat pohon tetangga untuk mengambil buah, kecuali durian yang dikecualikan karena Dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Sofi menjelaskan bahwa seluruh budaya ini terbentuk dari kebiasaan berulang serta cerita turun-temurun yang diperkuat oleh kondisi desa yang terbatas sumber daya alamnya — momen panen yang sering bersamaan dengan ritual atau upacara justru menjadi saat warga dapat menikmati makanan dengan lebih lega.
Sebagai simpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa alam dimanfaatkan dalam keseharian masyarakat sesuai keterjangkauan akses, dan interaksi dengan alam banyak diwujudkan melalui rasa syukur atas kelimpahannya demi mengharap keselamatan. Penelitian ini turut mencatat adanya pergeseran keterhubungan dengan alam akibat peran agama, kehadiran teknologi, dan perubahan lingkungan, sehingga aspek sosial-budaya menjadi penting untuk dipertimbangkan dalam memahami relasi manusia dan alam. Untuk penelitian selanjutnya, Sofi menyarankan pelibatan kelompok anak dan remaja, penggunaan forum kelompok berfokus (FGD), serta metode visual sebagai pendekatan tambahan. Secara implikatif, temuan ini diharapkan dapat memperkaya kajian manusia-alam dalam konteks sosial-budaya sekaligus mendorong agar suara masyarakat indijinus turut dipertimbangkan dalam kebijakan dan program pelestarian lingkungan melalui pengetahuan ekologi tradisional.
Dalam sesi tanya jawab, terungkap bahwa relasi masyarakat Desa Plosorejo dengan alam memiliki kemiripan dengan teknik grounding yang kini populer di media arus utama sebagai cara untuk kembali terkoneksi dengan alam — terlihat misalnya dari budaya menghindari dan mencurigai makanan olahan yang ternyata juga hadir di kedua konteks tersebut. Sofi menutup diskusi dengan menegaskan bahwa meski sejumlah keyakinan masyarakat desa mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, kekuatannya justru lahir dari proses pewarisan yang panjang serta kepercayaan kolektif yang dipegang erat oleh tetangga, keluarga, dan teman dalam komunitas tersebut.