• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Journal of Psychology
  • LPPM UGM
  • UGM Mail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Indigenous and Cultural Psychology
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang CICP
    • Selayang Pandang Indigenous Psychology
    • Sambutan Direktur
    • Sejarah CICP
    • Visi dan Misi
    • Staff
    • Anggota
  • Kegiatan
    • Konferensi
    • Konsentrasi Penelitian
      • Konsentrasi Penelitian 2021
      • Konsentrasi Penelitian 2020
      • Konsentrasi Penelitian 2019
    • Kegiatan Terlaksana
    • Kegiatan Rutin
      • CICP Publication Workshop
      • School of Researcher
      • THEORY BUILDING TRAINING
    • Kegiatan Mendatang
    • Magang Internal
      • Prosedur Magang Internal (UGM)
      • Rekap Magang Internal 2018
      • Rekap Magang Internal 2019
    • Magang External
      • Prosedur Magang Eksternal (Asing dan Non-UGM)
      • Alumni Magang Eksternal
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Working Paper Series
    • Buku
    • Policy Brief CICP
    • Artikel Lain
  • Home
  • Public Release

Salahkah Kita Meninggalkan Relasi Pertemanan?

  • Public Release
  • 10 Oktober 2026, 15.32
  • Oleh : cicp

Berteman dipandang sebagai suatu kebutuhan. Manusia seringkali membutuhkan relasi pertemanan dalam menunjang kehidupannya, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Unsur-unsur seperti dukungan, afeksi, dan berbagi merupakan hal yang didapatkan dari pertemanan. Dalam masyarakat kolektif, mempunyai teman juga sering dipandang sebagai keharusan karena menyangkut status sosial. Seseorang yang tidak mempunyai teman dapat dipandang negatif, yakni diasosiasikan dengan kesepian dan tidak pandai bergaul.

Karena pertemanan dipandang sebagai suatu hal yang positif dan seolah seperti keharusan, seseorang yang meninggalkan relasi pertemanan dapat dianggap melanggar nilai moral, terutama loyalitas. Namun, apakah benar selalu seperti demikian? Penelitian yang dilakukan oleh Mizda Annis Kamila dan kolega menunjukan bahwa upaya meninggalkan pertemanan seringkali dilakukan dengan alasan tertentu yang dapat menjustifikasinya. 

Relasi pertemanan seperti apa yang layak untuk ditinggalkan menurut penelitian tersebut? Tidak terpenuhinya ekspektasi dalam relasi pertemanan dan adanya pelanggaran moral yang dilakukan dalam kelompok pertemanan menjadi alasan utama seseorang meninggalkan relasi atau kelompok pertemanannya. Ekspektasi yang tidak terpenuhi tersebut meliputi loyalitas, kepercayaan, dukungan yang timbal-balik, dan penghargaan terhadap sesama teman. Kemudian, adanya pelanggaran moral yang terjadi meliputi objektifikasi seksual, membicarakan keburukan orang, hingga penghinaan terhadap individu dengan disabilitas. Meskipun bukan individu yang melakukannya, individu tetap merasa terancam harga diri dan status sosialnya jika terus tetap tinggal dalam kelompok pertemanan yang demikian.

Dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa meninggalkan relasi pertemanan tidaklah buruk dengan alasan tertentu. Ketika relasi pertemanan sudah tidak sehat, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba untuk pergi demi melindungi diri sendiri.

SDGS 4 Pendidikan yang Berkualitas

SGGS 16 Kedamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat

Related Posts

Angkringan #35 Bertajuk “Sirna Pening di Kala Hening: Pengalaman para Bedhaya Keraton Yogyakarta”

Angkringan Selasa, 3 November 2026

Angkringan CICP #35 menghadirkan Matheus Raoul dalam diskusi bertajuk “Sirna Pening di Kala Hening: Pengalaman para Bedhaya Keraton Yogyakarta”. Berangkat dari penelitian skripsinya, pertemuan ini mengajak peserta melihat Bedhaya tidak hanya sebagai pertunjukan tari yang […].

Press Release Summer Course Modul ke-2: Psychological and Social Foundations of Solidarity

Public Release Senin, 2 November 2026

Summer Course CICP UGM 2026 mengangkat tema “Understanding Solidarity in the Global South: Cultural and Psychological Perspectives.”  Rangkaian acara menghadirkan akademisi dari berbagai universitas untuk membahas identitas sosial, relasi antarkelompok, shared reality, hingga perilaku kolektif dalam […].

Lebih dari Sekedar Pencari Nafkah: Bagaimana Para Ayah Pekerja Belajar Hadir untuk Anak

Public Release Sabtu, 10 Oktober 2026

   Catatan. Diambil dari To Dad, With Love: A Daughter’s Account Of Growing Up With A Loving  Father, oleh Youth Ki Awaaz, 2013 (youthkiawaaz.com).  Hak Cipta 2019 oleh Getty Images/Comstcok Empat orang ayah bercerita mengenai […].

Melihat Eksistensi Selasar Psikologi dan Fungsinya yang Tak Terbatas

Public Release Sabtu, 10 Oktober 2026

Kampus merupakan panggung utama interaksi antara dosen dan mahasiswa untuk bertukar pikiran. Kampus tidak terbatas pada sekat maupun dinding bangunan fisik yang menaungi kepala kita untuk belajar.
Universitas Gadjah Mada

Alamat: Ruang D604 Gedung D lt. 6, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada,
Jalan Humaniora Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 INDONESIA

Jam Kerja: 08.00 – 16.00
Telepon: (+62)274-550435 ext. 604
Humas CICP: (+62)857-2868-1391
Fax: (+62)274-550436

Email: cicp@ugm.ac.id

Instagram: @cicp.ugm

© Universitas Gadjah Mada