Berteman dipandang sebagai suatu kebutuhan. Manusia seringkali membutuhkan relasi pertemanan dalam menunjang kehidupannya, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Unsur-unsur seperti dukungan, afeksi, dan berbagi merupakan hal yang didapatkan dari pertemanan. Dalam masyarakat kolektif, mempunyai teman juga sering dipandang sebagai keharusan karena menyangkut status sosial. Seseorang yang tidak mempunyai teman dapat dipandang negatif, yakni diasosiasikan dengan kesepian dan tidak pandai bergaul.
Karena pertemanan dipandang sebagai suatu hal yang positif dan seolah seperti keharusan, seseorang yang meninggalkan relasi pertemanan dapat dianggap melanggar nilai moral, terutama loyalitas. Namun, apakah benar selalu seperti demikian? Penelitian yang dilakukan oleh Mizda Annis Kamila dan kolega menunjukan bahwa upaya meninggalkan pertemanan seringkali dilakukan dengan alasan tertentu yang dapat menjustifikasinya.
Relasi pertemanan seperti apa yang layak untuk ditinggalkan menurut penelitian tersebut? Tidak terpenuhinya ekspektasi dalam relasi pertemanan dan adanya pelanggaran moral yang dilakukan dalam kelompok pertemanan menjadi alasan utama seseorang meninggalkan relasi atau kelompok pertemanannya. Ekspektasi yang tidak terpenuhi tersebut meliputi loyalitas, kepercayaan, dukungan yang timbal-balik, dan penghargaan terhadap sesama teman. Kemudian, adanya pelanggaran moral yang terjadi meliputi objektifikasi seksual, membicarakan keburukan orang, hingga penghinaan terhadap individu dengan disabilitas. Meskipun bukan individu yang melakukannya, individu tetap merasa terancam harga diri dan status sosialnya jika terus tetap tinggal dalam kelompok pertemanan yang demikian.
Dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa meninggalkan relasi pertemanan tidaklah buruk dengan alasan tertentu. Ketika relasi pertemanan sudah tidak sehat, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba untuk pergi demi melindungi diri sendiri.
SDGS 4 Pendidikan yang Berkualitas
SGGS 16 Kedamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat