Kampus merupakan panggung utama interaksi antara dosen dan mahasiswa untuk bertukar pikiran. Kampus tidak terbatas pada sekat maupun dinding bangunan fisik yang menaungi kepala kita untuk belajar. Di antara gedung dan interaksi mahasiswa, terkadang mahasiswa mencari tempat singgah untuk mengisi waktu di jeda antar mata kuliah ataupun nongkrong setelah perkuliahan usai. Mahasiswa terbiasa menunggu dan bercakap dengan rekan di sebuah tempat yang bernama selasar. Selasar adalah tempat yang tak terbatas. Fungsinya tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus bertambah mengikuti kebutuhan orang-orang yang memakainya.
Kampus tidak hanya berarti kumpulan bangunan tempat belajar, tetapi juga ruang tempat mahasiswa membangun relasi, menyimpan memori, dan merasa aman. Bagi mahasiswa Psikologi, kampus bahkan identik dengan “Rumah Kita”. Karena itu, pulang kuliah tidak selalu berarti langsung meninggalkan kampus. Banyak mahasiswa mengisi jeda di tempat-tempat yang tidak pernah masuk jadwal, dan salah satu yang paling sering dipilih justru bukan ruang kelas, melainkan selasar. Di sana, ada yang membuka laptop untuk mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman sekelompok, mengobrol sambil menunggu kelas berikutnya, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun. Keragaman ini menunjukkan bahwa selasar adalah tempat yang “tak terbatas”: fungsinya tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus bertambah mengikuti kebutuhan penggunanya. Inilah yang membuatnya menarik sekaligus kontradiktif. Selasar dirancang sebagai jalur penghubung antar ruang, bukan tempat untuk menetap, tetapi dalam keseharian kampus ia justru berfungsi layaknya ruang tinggal sementara.
Selasar dari Sudut Pandang Psikologi dan Arsitektur
Dari sudut pandang psikologi, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa terhubung dengan orang lain yang disebut need to belong (Pardede et al., 2025). Ruang kelas memenuhi kebutuhan akademis, tetapi tidak selalu memenuhi kebutuhan untuk hadir bersama orang lain tanpa agenda formal. Di lingkungan kampus, hubungan ini dapat berkembang menjadi sense of place, yaitu hubungan psikologis seseorang dengan tempat yang terbentuk melalui pengalaman, keterikatan, dan pemaknaan terhadap lingkungan tersebut (Khaidzir et al., 2023). Dengan begitu, selasar tidak hanya menjadi ruang untuk bertemu teman, tetapi perlahan dimaknai oleh penghuninya.
Lalu, selasar itu sebenarnya tempat apa?
Secara formal, selasar adalah ruang penghubung yang termasuk jalur sirkulasi, yaitu ruang yang memudahkan individu berpindah dari satu ruang ke ruang lain, misalnya dari ruang kelas menuju ruang dosen, ataupun menuju pintu keluar. Dengan fungsi seperti itu, selasar tidak menjadi tempat untuk berlama-lama. Namun, dalam keseharian, mahasiswa justru mengerjakan tugas, berdiskusi, makan bersama, menunggu kelas, bahkan beristirahat di sana. Aktivitas yang tidak tercantum dalam gambar rancangan inilah yang membuat selasar terasa hidup.
Hal ini sejalan dengan konsep ruang sosial yang digagaskan oleh Henri Lefebvre, filsuf Prancis penulis The Production of Space. Menurutnya, ruang adalah produk aktivitas sosial: orang membentuk ruang lewat cara mereka memakainya, lalu ruang itu mempengaruhi perilaku mereka (Lefebvre, 1991; Ibadi dkk., 2025). Ruang memiliki tiga lapis: perceived space (ruang yang tampak dari praktik sehari-hari), conceived space (ruang sebagaimana direncanakan perancang), dan lived space adalah (ruang sebagaimana dialami dan dimaknai penggunanya) (Ibadi dkk., 2025; Lefebvre, 1991; Stanek, 2011).
Pada selasar, rancangannya adalah jalur penghubung (conceived), praktik mahasiswa menjadikannya tempat bekerja dan bertemu (perceived), dan sebagian mahasiswa yang lain memaknai selasar sebagai “rumah” (lived). Kerangka ini memungkinkan penelitian melihat bukan hanya apa yang terjadi di selasar, tetapi juga bagaimana fungsi baru itu muncul dari kebiasaan penggunanya.
Karena begitu akrabnya selasar dengan keseharian kita, tempat ini terasa seperti ruang yang sudah kita kenal. Namun, sebenarnya seberapa banyak dari kehidupan di dalamnya yang benar-benar kita lihat? Apalagi ketika berbagai aktivitas berlangsung di tempat dan waktu yang berbeda, apakah ingatan kita cukup untuk menangkap keseluruhan polanya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kami bertanya kepada mahasiswa tentang bagaimana mereka menggunakan selasar. Kami mencoba melihat aktivitas kehidupan selasar secara langsung dan memetakannya ke dalam ruang. Pendekatan ini dikenal sebagai behavioral mapping, sebuah metode untuk merekam hubungan antara aktivitas manusia dan lokasi terjadinya aktivitas tersebut.
Ternyata, selasar tidak digunakan secara merata
Setelah aktivitas dipetakan, terlihat bahwa tidak semua bagian selasar menjalani keseharian yang sama. Dari data yang kami temukan, selasar kami bagi menjadi tiga zona (gambar 1).

- Zona barat: tempat lalu lalang.
Di sisi ini, selasar paling banyak berfungsi sebagaimana namanya. Letaknya dekat lift, tangga, dan akses ke area lain membuat zona ini menjadi rute yang “harus” dilewati mahasiswa. Orang datang dan pergi, berpapasan, berhenti sebentar, lalu melanjutkan perjalanan
- Zona tengah: fungsinya berubah-ubah.
Dalam kondisi biasa, area ini hanya menjadi jalur sirkulasi. Namun, ketika ada kegiatan, seperti latihan komunitas, kunjungan eksternal, atau acara fakultas, ruang untuk berjalan bisa dipenuhi orang yang duduk, menunggu, berbincang, atau menyaksikan. Fungsi ruang seolah bergeser mengikuti kegiatan yang berlangsung.
- Zona timur: aktivitas paling rendah
Adanya pembangunan gedung di sisi ini membuat bagian tersebut jarang dituju selama pengamatan.
Ketiga zona ini menunjukkan bahwa sebuah selasar tidak selalu memiliki satu pola penggunaan. Ia menjadi jalur yang harus dilewati, tetapi juga berubah menjadi tempat tinggal yang berlangsung sepanjang hari. Pukul 07.00–10.00, aktivitas didominasi pergerakan menuju ruang tujuan, terutama di zona barat. Pukul 10.00–14.00, jalur tetap ramai, tetapi mulai muncul diskusi dan penggunaan perangkat elektronik. Pukul 14.00–18.00, aktivitas paling beragam; ketika ada kegiatan, zona tengah dipenuhi orang duduk, menunggu, berbincang, atau mengikuti acara. Pukul 18.00–21.00, aktivitas menurun pada hari biasa, tetapi tetap bertahan ketika kegiatan masih berlangsung.
Untuk memahami pengalaman di balik pola tersebut, kami mewawancarai empat mahasiswa dengan intensitas penggunaan berbeda.
| Pengguna | Intensitas | Kecenderungan area |
| HM | Rendah | Sisi barat |
| V | Rendah | Sisi barat |
| S | Tinggi | Sisi tengah |
| IF | Tinggi, event-driven | Sisi barat |
Tabel 1. Demografi Narasumber Wawancara
Pola ini memperkuat temuan observasi: cara orang menggunakan selasar berkaitan dengan bagian ruang yang mereka pilih. Namun perlu diingat, wawancara menunjukkan sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh titik-titik pada peta, yaitu pengalaman dan pemaknaan di balik pilihan tersebut. Bagi S, misalnya, selasar ia maknai bukan hanya sebagai tempat untuk lewat atau menunggu.
“Aku menggambarkan selasar sebagai rumah ya… aku bisa ke selasar dengan apa adanya, tanpa ada hal yang harus aku penuhi untuk bisa diterima di selasar. Aku merasa aku bebas di selasar.”
Ungkapan S menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan ruang tidak berhenti pada seberapa sering tempat itu digunakan. Ada pula rasa menjadi bagian dari tempat tersebut (sense of belonging). Namun tentu saja, rasa nyaman tidak hadir begitu saja tanpa adanya fasilitas yang menyokong, seperti meja yang luas, akses wifi, tempat duduk, dan sirkulasi udara setidaknya merupakan beberapa alasan para partisipan memilih suatu titik. Sebaliknya, udara yang panas atau pengap serta keterbatasan stopkontak dapat membuat suatu area kurang menarik untuk ditinggali.
Pergeseran fungsi dapat dilihat melalui hubungan sederhana antara path, node, dan terminus. Path adalah ruang yang dilalui untuk bergerak. Ketika aktivitas terkonsentrasi di titik tertentu, bagian itu dapat menjadi node, sebuah titik temu. Pada kondisi tertentu, ruang bahkan dapat berubah menjadi terminus di mana ia tak lagi sekedar dilewati, tetapi menjadi tujuan. Fungsi ini tidak selalu muncul karena ruangnya dirancang untuk itu. Selasar dapat menjadi tempat bertemu rekan, baik sengaja maupun tidak, dalam kegiatan formal maupun percakapan sehari-hari. 
Heatmap juga memperlihatkan bahwa orang cenderung memilih jalan yang dirasa paling cepat atau praktis. Dalam kajian desire path, jalur seperti ini muncul ketika rute yang tersedia tidak sepenuhnya sesuai preferensi pengguna sehingga mereka mencari alternatif yang lebih sesuai kebutuhannya (Bossowski et al., 2025). Artinya, manusia tidak hanya mengikuti ruang, tetapi juga menegosiasikan dan membentuk cara ruang itu digunakan. 
Sebuah ruang menjadi komunal bukan hanya desainnya yang menyediakan tempat berkumpul. Aksesibilitas, kegiatan yang berlangsung, karakteristik fisik, kebiasaan pengguna, dan fleksibilitas ruang bersama-sama membentuk cara orang menggunakan dan mamaknainya sehingga fungsi ruang tidak berhenti pada yang direncanakan sejak awal. Pandangan ini sejalan dengan SDG 4 (pendidikan berkualitas) dan SDG 11 (lingkungan inklusif dan berkelanjutan). Selasar layak dipandang sebagai bagian dari ekosistem belajar kampus dan ruang yang hidup tumbuh dari kebiasaan penggunanya. Jika kampus dimaknai sebagai “kota kecil”, selasar adalah ruang publiknya.
Pada akhirnya, selasar bukan sekedar tempat untuk lewat. Ia terus berubah mengikuti siapa penggunanya, apa aktivitas yang dilakukan, dan bagaimana cara menggunakannya. Mungkin selama ini kita mengira ruang hanyalah bangunan yang terbentuk setelah selesai dirancang. Padahal, ketika penggunanya hadir, ruang yang sesungguhnya justru mulai terbentuk. Sebab, sebuah ruang tidak hanya dibentuk oleh dinding dan lantai, tetapi juga oleh kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Sumber:
Bossowski, J., Szandała, T., & Mazurkiewicz, J. (2025). Predicting Desire Paths: Agent-Based Simulation for Neighbourhood Route Planning. Computers, Environment and Urban Systems, 117, 102251. https://doi.org/10.1016/j.compenvurbsys.2025.102251
Ibadi, R. M. W., Roosandriantini, J., Hidayat, A., & Lestari, N. Y. (2025). Teori Production of Space Henri Lefebvere dalam konteks untuk membaca ruang di Indonesia. Archimane, 3(2), 193–202.
Khaidzir, M. F. S., Ahmad, M. A., & Kamal. (2023). Sense of Place: Place Identity, Place Attachment, and Place Dependence Among University Students. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 13(10), 938–951.
Lefebvre, H. (1991). The production of space (D. Nicholson-Smith, Trans.). Blackwell. (Original work published 1974)
Pardede, S., & Kovač, V. B. (2025). A Conceptual Relation Between the Need to Belong and Sense-of-Belongingness. Psychological Reports, 0(0).
Stanek, Ł. (2011). Henri Lefebvre on space: Architecture, urban research, and the production of theory. University of Minnesota Press. https://doi.org/10.5749/minnesota/9780816666164.001.0001