• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Journal of Psychology
  • LPPM UGM
  • UGM Mail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Indigenous and Cultural Psychology
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang CICP
    • Selayang Pandang Indigenous Psychology
    • Sambutan Direktur
    • Sejarah CICP
    • Visi dan Misi
    • Staff
    • Anggota
  • Kegiatan
    • Konferensi
    • Konsentrasi Penelitian
      • Konsentrasi Penelitian 2021
      • Konsentrasi Penelitian 2020
      • Konsentrasi Penelitian 2019
    • Kegiatan Terlaksana
    • Kegiatan Rutin
      • CICP Publication Workshop
      • School of Researcher
      • THEORY BUILDING TRAINING
    • Kegiatan Mendatang
    • Magang Internal
      • Prosedur Magang Internal (UGM)
      • Rekap Magang Internal 2018
      • Rekap Magang Internal 2019
    • Magang External
      • Prosedur Magang Eksternal (Asing dan Non-UGM)
      • Alumni Magang Eksternal
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Working Paper Series
    • Buku
    • Policy Brief CICP
    • Artikel Lain
  • Home
  • Public Release

Lebih dari Sekedar Pencari Nafkah: Bagaimana Para Ayah Pekerja Belajar Hadir untuk Anak

  • Public Release
  • 10 Oktober 2026, 16.03
  • Oleh : cicp

 

 Catatan. Diambil dari To Dad, With Love: A Daughter’s Account Of Growing Up With A Loving  Father, oleh Youth Ki Awaaz, 2013 (youthkiawaaz.com).  Hak Cipta 2019 oleh Getty Images/Comstcok

Empat orang ayah bercerita mengenai masa kecil mereka, tuntutan pekerjaan dan usaha mereka dalam membangun kedekatan dengan anak.

“Ada penyesalan juga,” kata salah satu ayah. Ia menyebut hal ini sebagai “missing time”, waktu yang sudah berlalu dan tidak mungkin terulang saat pekerjaan membatasi kehadirannya. Pengalaman semacam ini membuat pertanyaan tentang kehadiran seorang ayah menjadi lebih rumit daripada sekadar apakah seorang anak memiliki ayah yang tinggal bersamanya. 

Berdasarkan data Kompas (2024), sekitar 11,5 juta anak tinggal bersama seorang ayah yang bekerja selama lebih dari 60 jam dalam seminggu. Angka tersebut bukan serta-merta berarti para ayah tersebut absen secara emosional melainkan jam kerja yang panjang jelas menyisakan sebuah pertanyaan yang lebih kompleks yakni, 

Kapan para ayah memiliki cukup waktu dan tenaga untuk terlibat dalam keseharian rumah tangga dan membersamai anak mereka? Apa artinya menjadi seorang ayah yang baik dalam hal mencari nafkah bagi keluarga dan turut serta hadir di rumah? 

Tim peneliti mahasiswa kami di Universitas Gadjah Mada menelusuri pertanyaan ini melalui wawancara naratif d

engan empat ayah pekerja berusia 32 hingga 50 tahun. Keempatnya mengidentifikasi diri sebagai seorang ayah yang memiliki keterlibatan aktif dalam urusan keluarga atau rumah tangga. Kami tidak mengukur keterlibatan ini secara kuantitatif, yang kami fokuskan adalah bagaimana pemahaman mereka mengenai peran ayah berkembang lewat pengalaman. Kisah mereka tentu tidak bisa mewakili kisah seluruh ayah pekerja di Indonesia. Namun, kisah-kisah ini dapat memberikan pandangan yang lebih dekat tentang keputusan, kompromi dan kontradiksi di balik gagasan “ayah yang hadir”. Keinginan untuk hadir tidak selalu muncul dengan sendirinya dan tidak selalu mudah untuk diwujudkan.

 

Pengalaman Masa Kecil Yang Terus Terbawa

Ketika berbicara mengenai anak, para ayah tidak hanya bercerita mengenai kehidupan mereka sekarang sebagai ayah, tetapi mereka juga kembali mengingat masa-masa mereka ketika masih menjadi anak. Seorang ayah mengaku tidak memperoleh perhatian yang ia harapkan ketika masih kecil, sehingga hal itu membuatnya in

gin mengambil jalan yang berbeda dalam mengasuh anak. “Saya dulu waktu kecil tidak diperhatikan, dan saya tidak ingin itu terjadi pada anak saya.” Upaya yang ia maksud membuatnya ingin “memutus rantai”. 

Ayah lain tumbuh tanpa figur ayah yang dapat dijadikan contoh. Ia justru banyak belajar dari istri dan keluarga mertu

anya. Ia mengamati bagaimana orang-orang di sekitarnya, memilih perilaku yang menurutnya baik dan mencoba menghindari hal yang tidak baik. 

Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang tidak menentukan secara pasti seperti apa seseorang akan menjadi seorang ayah. Pengalaman tersebut dapat menjadi sebuah teladan, tetapi juga dapat menjadi alasan yang kuat bagi seorang ayah untuk membangun citra diri yang berbeda. Hal ini tentu saja menyesuaikan dengan keadaan anggota keluarganya. 

 

Belajar Tidak Berhenti Pada Satu Titik Saja

“Namanya orang berubah kan, tidak seperti membalikkan tangan tuh. Saya ingin ngasih orang, enggak mungkin langsung saya kasih. Musti saya buka dompet dulu, Ada prosesnya. Saya harus tengok tangan saya kotor engga kan gitu.” 

Seorang ayah tidak menggambarkan dirinya sebagai laki-laki yang tiba-tiba berubah, melainkan sebagai seseorang yang masih belajar untuk menyesuaikan diri. 

“Nggak cuma cari uang aja, tapi kita juga harus bantu ngerawat anak.” 

Menariknya, penggunaan kata “bantu” oleh partisipan lain memperlihatkan bahwa pengasuhan ternyata masih sering dipahami sebagai tugas utama seorang ibu. Dari keseluruhan cerita tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa peran ayah adalah sesuatu yang dinamis dan selalu dalam proses perubahan. 

 

Ketika Pekerjaan Ikut Menentukan Kehadiran

Keinginan untuk selalu dekat dengan anak tidak serta-merta menghasilkan waktu luang. Ada yang kelelahan karena energi yang terkuras dari pekerjaan, ada juga partisipan yang menceritakan bagaimana lingkungan kerja yang keras ikut membentuk sikapnya yang mudah emosional. Ayah lain pun mengungkapkan terjadinya benturan ketika ada tenggat pekerjaan yang bersamaan dengan waktu keluarga membutuhkan dirinya. Ia tidak dapat selalu meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ia merasa waktu hanya tersedia pada saat akhir pekan dan harapan akan izin kerja yang fleksibel dapat membantunya mengatur waktu untuk keluarga terkasih. 

“Pekerjaan tidak hanya mengambil waktu seorang ayah di luar rumah, tetapi juga dapat memengaruhi cara seorang ayah bersikap ketika kembali ke rumah.”

Penting untuk melihat perbedaan pengalaman yang mereka miliki karena keterlibatan ayah tidak dapat dibebankan hanya pada niat baik saja. Melainkan terdapat prediktor tak terduga lain seperti jam kerja, rasa lelah, fleksibilitas dan dukungan tempat kerja yang turut menentukan apakah suatu keinginan untuk hadir dapat dijalankan. 

 

Antara Kedekatan dan Tanggung Jawab

“Saya ingin mengomunikasikan bahwa saya ini loh, TEMANMU. Saya ini bisa jadi temanmu, bisa jadi orang tuamu, gitu loh.” 

Bagi partisipan tersebut, menjadi dekat berarti memberi ruang bagi sang anak untuk berbicara tanpa merasa takut dihakimi, layaknya ketika berbicara kepada seorang teman dekat. Partisipan ayah lainnya membayangkan dirinya sebagai seorang abang bagi sang anak. Ia berharap sang anak tidak merasa sungkan menceritakan apa pun kepadanya. 

Ada pula ayah yang menggambarkan dirinya sebagai mentor dalam keluarga. Ia merasa perlu memberi arah, visi dan pegangan hidup kepada anak-anaknya. Namun, ketika berbicara mengenai hubungan suami istri, ia juga menegaskan, “Rumah tangga adalah proses dari kita. Bukan saya, tapi saya dengan istri saya, kita. Rumah tangga ini, kita. Keluarga ini, kita. Bukan saya, bukan istri saya, tapi kita berdua.” Keluarga memang dijalankan secara bersama-sama tetapi ayah tetap lah dipandang sebagi sosok yang memberi arah. 

Kedekatan dengan anak juga tidak otomatis menghilangkan keinginan untuk melindungi, mengawasi atau memberi contoh. Perubahan peran ayah bukan berarti meninggalkan seluruh pandangan konvensional mengenai laki-laki, melainkan mempertahankan beberapa unsur sementara unsur lainnya ditafsirkan kembali. Hal tersebut tentu perlu melibatkan dan dilihat dari sudut pandang istri serta anak dalam keluarga.

Catatan. Dari Pixabay.

 

Ruang Bagi Kehadiran Ayah

Di Indonesia, pengakuan terhadap pentingnya keterlibatan ayah mulai nampak dalam kebijakan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak mengatur hak cuti pendampingan istri saat persalinan selama dua hari, dengan kemungkinan tambahan paling lama tiga hari berikutnya atau sesuai kesepakatan. Aturan ini memberi ruang bagi suami untuk mendampingi keluarga pada masa awal kelahiran. 

Namun, kebutuhan anak terhadap seorang ayah tidak berhenti hanya beberapa hari setelah persalinan. Anak-anak terus membutuhkan waktu, perhatian dan hubungan melalui sosok ayah selama mereka bertumbuh. Karena itu, dukungan terhadap keterlibatan ayah tidak cukup hanya berupa ajakan agar laki-laki lebih peduli, tetapi juga berupa bagaimana pengaturan kerja yang ada dapat memungkinkan sang ayah untuk mengurus keluarganya lebih fleksibel. Hal ini sejalan dengan SDG 5.4 yang menekankan pengakuan terhadap pekerjaan perawatan tidak berbayar dan pembagian tanggung jawab di rumah. 

Keempat ayah yang kami temui tidak mempunyai satu jawaban mufakat mengenai arti menjadi seorang ayah yang baik. Ada yang ingin tidak mengulang pengalaman masa kecilnya ketika sudah menjadi ayah, ada yang masih belajar memahami anak dan pasangan, ada yang menyesali waktu yang hilang karena bekerja, dan ada pula yang berusaha ‘hangat’ tapi juga tegas di saat yang bersamaan. Perubahan yang mereka alami adalah usaha yang terus berlangsung, bukan sebuah hal yang final. Menjadi ayah bukan hanya soal menyediakan kebutuhan hidup bagi keluarganya, melainkan juga soal bagaimana seorang ayah bersedia mengenal, menyesuaikan diri, dan meluangkan waktu bagi keluarganya. Tantangannya adalah, hal-hal tersebut tidak hanya bergantung pada pilihan pribadi sang ayah, melainkan juga pada keadaan pekerjaan dan dukungan yang tersedia di sekitar. 

 

Oleh: Puti Aisyah Naurah, Donavi Riska Hermawan, Lusiana Dewi, Muhammad Budka Risaladina, Lauren Leo, Cinta Claudia Buntoro, dan Mara Elim Monako 

Related Posts

Angkringan #35 Bertajuk “Sirna Pening di Kala Hening: Pengalaman para Bedhaya Keraton Yogyakarta”

Angkringan Selasa, 3 November 2026

Angkringan CICP #35 menghadirkan Matheus Raoul dalam diskusi bertajuk “Sirna Pening di Kala Hening: Pengalaman para Bedhaya Keraton Yogyakarta”. Berangkat dari penelitian skripsinya, pertemuan ini mengajak peserta melihat Bedhaya tidak hanya sebagai pertunjukan tari yang […].

Press Release Summer Course Modul ke-2: Psychological and Social Foundations of Solidarity

Public Release Senin, 2 November 2026

Summer Course CICP UGM 2026 mengangkat tema “Understanding Solidarity in the Global South: Cultural and Psychological Perspectives.”  Rangkaian acara menghadirkan akademisi dari berbagai universitas untuk membahas identitas sosial, relasi antarkelompok, shared reality, hingga perilaku kolektif dalam […].

Melihat Eksistensi Selasar Psikologi dan Fungsinya yang Tak Terbatas

Public Release Sabtu, 10 Oktober 2026

Kampus merupakan panggung utama interaksi antara dosen dan mahasiswa untuk bertukar pikiran. Kampus tidak terbatas pada sekat maupun dinding bangunan fisik yang menaungi kepala kita untuk belajar.

Salahkah Kita Meninggalkan Relasi Pertemanan?

Public Release Sabtu, 10 Oktober 2026

Berteman dipandang sebagai suatu kebutuhan. Manusia seringkali membutuhkan relasi pertemanan dalam menunjang kehidupannya, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Unsur-unsur seperti dukungan, afeksi, dan berbagi merupakan hal yang didapatkan dari pertemanan.
Universitas Gadjah Mada

Alamat: Ruang D604 Gedung D lt. 6, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada,
Jalan Humaniora Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 INDONESIA

Jam Kerja: 08.00 – 16.00
Telepon: (+62)274-550435 ext. 604
Humas CICP: (+62)857-2868-1391
Fax: (+62)274-550436

Email: cicp@ugm.ac.id

Instagram: @cicp.ugm

© Universitas Gadjah Mada