
Angkringan CICP #35 menghadirkan Matheus Raoul dalam diskusi bertajuk “Sirna Pening di Kala Hening: Pengalaman para Bedhaya Keraton Yogyakarta”. Berangkat dari penelitian skripsinya, pertemuan ini mengajak peserta melihat Bedhaya tidak hanya sebagai pertunjukan tari yang sakral, tapi juga sebagai pengalaman yang dihayati para penarinya. Gerak, irama, tata laku, dan simbol di dalamnya menjadi cara untuk memahami proses nilai budaya membentuk pengalaman personal maupun spiritual.
Bedhaya merupakan genre tari yang berkembang di lingkungan keraton Jawa, termasuk Yogyakarta dan Surakarta. Dalam hierarki seni pertunjukan istana, Bedhaya menempati posisi yang luhur. Hal itu tercermin antara lain melalui busana penari yang detail dan menyerupai busana pengantin. Raoul juga menggarisbawahi perbedaan antara genre dan judul, dan Bedhaya adalah jenis atau genre tari, sedangkan setiap judul merujuk pada koreografi tertentu.
Dalam praktiknya, Bedhaya melibatkan sembilan penari dengan busana dan aksesori yang seragam. Keserupaan tersebut bukan sekadar pilihan visual. Dalam pemaknaan yang dibahas, kesamaan tampilan atau “tata lair” dimaksudkan untuk meniadakan penonjolan perbedaan antarpenari. Sementara itu, istilah “samun” merujuk pada keadaan tersembunyi atau tanpa identitas. Dalam pengalaman menari, gagasan ini dimaknai sebagai upaya mengosongkan diri agar seseorang terbuka untuk menerima hal-hal baru.
Bedhaya dilakukan oleh sembilang orang perempuan dengan pola lantai yang menyerupai tubuh manusia. Komposisi sembilan penari juga memuat simbol perjalanan menuju kesatuan dan kesempurnaan. Susunan 3-3-3 dipahami sebagai lambang keutuhan, sedangkan relasi tokoh Batak dan Endhel merepresentasikan tarik-ulur antara akal dan nafsu. Keduanya tidak selalu bergerak searah, tapi perlu dikelola agar manusia dapat mencapai keseimbangan. Dalam pemaknaan Jawa, nafsu tidak harus dihilangkan sepenuhnya. Namun, dorongan tersebut perlu dikenali dan dikendalikan dengan akal.
Pembahasan dilanjutkan mengenai pengalaman tubuh penari Bedhaya. Tarian Bedhaya menuntut penguasaan tiga unsur, yakni wiraga (gerak), wirama (irama), dan wirasa (penghayatan). Gerak yang panjang dan repetitif, iringan yang cenderung monoton, serta kehadiran nyanyian dan cerita sinden membentuk suasana yang dapat terasa meditatif. Pertunjukan juga melibatkan berbagai indra, mulai dari penglihatan dan pendengaran hingga penciuman. Di tengah penghayatan tersebut, penari tetap dituntut menjaga kontrol dan kesadaran diri.
Paparan Raoul juga merangkum penggalian pengalaman empat dari delapan penari Bedhaya yang berasal dari beragam latar demografis dan menjalani latihan klasik di Keraton. Dari kisah para penari, muncul lima pokok pemaknaan, yaitu menjalankan tugas untuk menarikan pusaka leluhur yang sakral, perjalanan menuju pemenuhan spiritual, embodiment atau penghayatan nilai melalui tubuh, ngemong, serta mengambil waktu untuk berefleksi. Menjadi penari Bedhaya dipahami bukan hanya sebagai pencapaian, tapi juga kepercayaan dan tanggung jawab untuk merawat warisan leluhur serta meneruskan nilai antargenerasi.
Diskusi juga menyoroti sejarah, mitos, dan persyaratan yang menyertai pementasan Bedhaya. Dalam Serat Nitik Sultan Agung, Bedhaya diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk penyambutan Sultan Agung. Dalam praktiknya, pementasan juga berkaitan dengan persyaratan ritual dan pemaknaan tentang kesucian penari. Ukuran kesucian tersebut berubah seiring waktu. Misalnya, dahulu penari Bedhaya biasanya akan dipingit dalam kraton, tapi saat ini penari Bedhaya cukup memenuhi persyaratan tertentu, seperti belum menikah. Sebagian penari memiliki keyakinan bahwa hal-hal magis dapat memengaruhi performa, termasuk dalam kaitannya dengan proses biologis seperti menstruasi.
Bedhaya memperlihatkan sebuah paradoks, yaitu penarinya dipandang sebagai pembawa pusaka yang sakral. Namun di sisi lain tubuh perempuan juga dapat menjadi sasaran penilaian tentang kesucian dan kenajisan. Dengan demikian, Bedhaya tidak hanya berkaitan dengan tarian, seni, dan pelestarian tradisi. Bedhaya juga membuka ruang untuk membicarakan relasi antara warisan budaya, pembelajaran kehidupan dan keseharian, nilai budaya, pengalaman tubuh perempuan, dan keyakinan. Melalui Angkringan #35, peserta diajak memahami Bedhaya sebagai pusaka yang terus hidup dan berkembang melalui pengalaman orang-orang yang menjalaninya. Selain melalui pertunjukan, kesakralan dari Bedhaya hadir melalui refleksi, penghayatan, dan proses pewarisan nilai yang dibawa penari ke kehidupan sehari-hari.