• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Journal of Psychology
  • LPPM UGM
  • UGM Mail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Indigenous and Cultural Psychology
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang CICP
    • Selayang Pandang Indigenous Psychology
    • Sambutan Direktur CICP
    • Sejarah CICP
    • Visi dan Misi
    • Staff
    • Anggota
  • Kegiatan
    • Konferensi
    • Konsentrasi Penelitian
      • Konsentrasi Penelitian 2021
      • Konsentrasi Penelitian 2020
      • Konsentrasi Penelitian 2019
    • Kegiatan Terlaksana
    • Kegiatan Rutin
      • CICP Publication Workshop
      • School of Researcher
      • THEORY BUILDING TRAINING
    • Kegiatan Mendatang
    • Magang Internal
      • Prosedur Magang Internal (UGM)
      • Rekap Magang Internal 2018
      • Rekap Magang Internal 2019
    • Magang External
      • Prosedur Magang Eksternal (Asing dan Non-UGM)
      • Alumni Magang Eksternal
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Working Paper Series
    • Buku
    • Policy Brief CICP
    • Artikel Lain
  • Beranda
  • Public Release
  • Memikirkan Kembali tentang “Budaya”: Summer Course Menyorot Polikulturalisme sebagai Jalan Inklusivitas bersama Prof. Emiko Kashima

Memikirkan Kembali tentang “Budaya”: Summer Course Menyorot Polikulturalisme sebagai Jalan Inklusivitas bersama Prof. Emiko Kashima

  • Public Release
  • 25 Juli 2025, 15.55
  • Oleh: admin
  • 0

Jum’at (18/07), sesi ketiga dari rangkaian modul 1 International Summer Course CICP 2025 “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP. Psikologi dan budaya kembali disorot dengan kuliah yang dibawakan oleh cendekiawan ternama Prof. Emiko Kashima dari La Trobe University. Sesi yang berjudul “What is Polyculturalism? A New Perspective for Understanding Culture and Cultural Identity” ini mengajak para peserta untuk mengeksplorasi bagaimana budaya tidak tetap, melainkan saling terhubung dan terus berkembang.

Prof. Kashima memperkenalkan polikulturalisme sebagai perspektif yang mengakui bagaimana budaya saling memengaruhi dari waktu ke waktu. Tidak seperti multikulturalisme, yang merayakan identitas yang berbeda, polikulturalisme menekankan pertukaran, koneksi, dan pembentukan timbal balik antarbudaya. Konsep ini mendorong orang untuk melampaui label dan asumsi, mendorong pemahaman, inklusi, dan empati.

Para peserta, yang sebagian besar mahasiswa dan profesional dari berbagai disiplin ilmu, membahas bagaimana polikulturalisme berbeda dari identitas bikultural dan bagaimana teori ini dapat lebih mencerminkan dunia digital global saat ini—terutama di negara yang beragam seperti Indonesia. Banyak yang merenungkan bagaimana identitas budaya bergeser melalui paparan media, migrasi, dan interaksi sehari-hari.

Pertanyaan dari peserta membahas implikasi dunia nyata, mulai dari masa depan karier di bidang psikologi budaya hingga bagaimana perusahaan multinasional dapat membangun budaya tempat kerja yang inklusif. Peserta lainnya merenungkan tantangan seperti intoleransi dan perbedaan generasi dalam beradaptasi dengan perubahan norma budaya.

Sesi ditutup dengan pengingat bahwa budaya bukanlah tembok, melainkan jembatan. Merangkul polikulturalisme dapat membantu masyarakat tumbuh lebih terbuka, tangguh, dan inklusif.

Tags: Polyculturalism SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Alamat: Ruang D604 Gedung D lt. 6, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Jl. Humaniora No. 1 Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 INDONESIA

Jam Kerja: 08.00 – 16.00
Telepon: (+62)274-550435 ext. 604
Humas CICP: (+62)857-2868-1391
Fax: (+62)274-550436

Email: cicp@cicp.psikologi.ugm.ac.id

Instagram: @cicp.ugm

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY