Jum’at (18/07), sesi ketiga dari rangkaian modul 1 International Summer Course CICP 2025 “Beyond Boundaries” yang diselenggarakan oleh CICP. Psikologi dan budaya kembali disorot dengan kuliah yang dibawakan oleh cendekiawan ternama Prof. Emiko Kashima dari La Trobe University. Sesi yang berjudul “What is Polyculturalism? A New Perspective for Understanding Culture and Cultural Identity” ini mengajak para peserta untuk mengeksplorasi bagaimana budaya tidak tetap, melainkan saling terhubung dan terus berkembang.
Prof. Kashima memperkenalkan polikulturalisme sebagai perspektif yang mengakui bagaimana budaya saling memengaruhi dari waktu ke waktu. Tidak seperti multikulturalisme, yang merayakan identitas yang berbeda, polikulturalisme menekankan pertukaran, koneksi, dan pembentukan timbal balik antarbudaya. Konsep ini mendorong orang untuk melampaui label dan asumsi, mendorong pemahaman, inklusi, dan empati.
Para peserta, yang sebagian besar mahasiswa dan profesional dari berbagai disiplin ilmu, membahas bagaimana polikulturalisme berbeda dari identitas bikultural dan bagaimana teori ini dapat lebih mencerminkan dunia digital global saat ini—terutama di negara yang beragam seperti Indonesia. Banyak yang merenungkan bagaimana identitas budaya bergeser melalui paparan media, migrasi, dan interaksi sehari-hari.
Pertanyaan dari peserta membahas implikasi dunia nyata, mulai dari masa depan karier di bidang psikologi budaya hingga bagaimana perusahaan multinasional dapat membangun budaya tempat kerja yang inklusif. Peserta lainnya merenungkan tantangan seperti intoleransi dan perbedaan generasi dalam beradaptasi dengan perubahan norma budaya.
Sesi ditutup dengan pengingat bahwa budaya bukanlah tembok, melainkan jembatan. Merangkul polikulturalisme dapat membantu masyarakat tumbuh lebih terbuka, tangguh, dan inklusif.