Mendudukan Posisi Psikologi Eksperimen dan Menyilangkannya dengan Psikologi Indigenous

Home / Public Release / Mendudukan Posisi Psikologi Eksperimen dan Menyilangkannya dengan Psikologi Indigenous

img_2713

Diskusi bulanan CICP pada 21 April 2016 lalu, mengangkat tema Experimental and Indigenous Psychology dengan pemateri Galang Lufityanto., S.Psi., M.Psi., Ph.D, Dalam pemaparannya, Galang berusaha mendudukkan posisi psikologi eksperimen dan persilangannya dengan psikologi indigenous. Ia memulai dari menjelaskan sejarah psikologi eksperimen dimana American Psychological Association (APA) pada tahun 1984 menganggap bahwa eksperimen adalah suatu metodologi paling mainstream di psikologi. Oleh karena itu, semakin dikembangkan laboratorium untuk menggerakkan adanya eksperimen terhadap suatu fenomena-fenomena psikologis hingga mencapai kriteria empiris.

 

Empirisme secara umum mempunyai beberapa kriteria berikut, diantaranya; determinisme yang bermakna adanya pola yang berulang yang dapat diamati, empirisme bermakna dapat diamati di setting natural, testabilitas yaitu ketika diuji, menghasilkan hasil yang sama dan operasionisme atau dapat dilakukan secara nyata.

 

Sesuai fungsinya, psikologi eksperimen merupakan metode yang disepakati dapat menunjukkan hubungan sebab akibat. Sehingga, jika dikaitkan dengan psikologi budaya dan indigenus, psikologi eksperimen dapat sarana pengujian sebab akibat setelah di lapangan ditemui sebuah fenomena tertentu yang digali melalui pendekatan indigenus. Sebab psikologi indigenus selama ini lebih banyak menggunakan deskriptif analisis dengan tujuan utama adalah untuk membuktikan penelitian secara empiris dan valid.

 

Selain itu, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk untuk mengombinasikan antara psikologi indigenous dan eksperimen. Pertama, hasil riset psikologi indigenous yang menangkap keadaan di lapangan dapat diturunkan menjadin definisi konseptual dan operasional. Kedua, setelah itu, harus diemukan bagian-bagian dari topik atau variabel yang ada. Ketiga, temukan parameter, prosedur, dan teknik pengukuran yang cocok dengan popular belief yang ada. Keempat, limitasi terhadap variabel yang ada. Terakhir, menggunakan objektif dan tractable methodology (metodologi yang dapat diubah-ubah ataupun dapat disesuaikan).

 

Secara ringkas, Psikologi eksperimen adalah salah satu metode yang valid dan dapat membantu menjelaskan adanya hubungan sebab akibat di suatu lingkungan atau konteks yang ada. Psikologi eksperimen sendiri dapat digunakan untuk memverifikasikan teori yang digali dari lapangan secara kualitatif sehingga hal tersebut menjadi lebih kuat dan membuktikan kebenarannya. [Fakhirah]